JAKARTA, Generasi.co — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses memutus tren negatif dan berbalik menguat (rebound) pada sesi perdagangan Rabu (20/5/2026) pagi. Kebangkitan bursa saham domestik ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang tengah mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait arah ekonomi makro dalam Rapat Paripurna DPR RI hari ini.
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.45 WIB, IHSG tercatat naik 54,58 poin atau 0,86 persen ke level 6.425,26. Pembalikan arah ini turut ditopang oleh kelompok 45 saham unggulan (Indeks LQ45) yang melesat 9,07 poin atau 1,43 persen ke posisi 643,89, setelah sebelumnya sempat dibuka melemah di awal sesi.
Pertaruhan Kebijakan Fiskal dan Kepercayaan Investor
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa fokus utama investor saat ini tertuju pada kejelasan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo. Publik menanti strategi konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, disiplin fiskal, hingga langkah penguatan rupiah di tengah tekanan global.
“Secara teknikal, area 6.300 menjadi support psikologis yang sangat penting bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang rebound menuju area 6.500-6.535 masih terbuka,” ujar Hendra di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Namun, Hendra memperingatkan bahwa apabila level support tersebut jebol, bursa saham RI berisiko masuk ke dalam fase krisis kepercayaan jangka pendek.
Menurutnya, pidato Presiden Prabowo hari ini menjadi momentum krusial penentu arah pasar. Jika pidato tersebut memberikan sinyal keberpihakan terhadap stabilitas pasar dan dunia usaha, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound. Sebaliknya, ketiadaan langkah konkret berpotensi memperpanjang aksi jual.
Faktor Penentu: Pergerakan Rupiah dan Keputusan Suku Bunga BI
Selain sentimen politik domestik, stabilitas nilai tukar rupiah dan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi faktor utama penentu laju bursa.
Pelemahan rupiah dikhawatirkan memicu inflasi impor serta membebani utang luar negeri korporasi dan fiskal pemerintah. Hendra menegaskan, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah pasar bisa kembali pulih atau justru terperosok ke dalam panic selling.
Di sisi lain, pada siang ini pelaku pasar juga mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), yang diproyeksikan bakal menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,00 persen.
Sentimen Global: Ketegangan Iran Mereda, Bursa Asia Kompak Merah
Dari sisi eksternal, sentimen geopolitik mulai menunjukkan sinyal positif setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran guna membuka ruang negosiasi damai. Keputusan ini langsung meredakan kekhawatiran global atas gangguan pasokan dan memicu penurunan harga minyak mentah dunia.
Meskipun tensi geopolitik mereda, pergerakan bursa saham global masih dibayangi tekanan:
- Bursa Wall Street (AS): Ditutup kompak melemah pada Selasa (19/5). Indeks Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 minus 0,67 persen, dan Nasdaq terkoreksi 0,61 persen.
- Bursa Eropa: Bergerak variatif. DAX Jerman menguat 0,38 persen, namun CAC 40 Prancis melemah 0,07 persen.
- Bursa Asia (Pagi Ini): Bergerak di zona merah. Indeks Nikkei anjlok 1,39 persen, Hang Seng melemah 0,83 persen, Strait Times turun 0,77 persen, dan Shanghai terkoreksi 0,44 persen.










