JAKARTA, Generasi.co — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Jaminan ini diberikan pemerintah meskipun harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sempat meroket tajam hingga menembus angka USD 117 per barel di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Bahlil menegaskan bahwa indikator utama yang digunakan pemerintah bukanlah lonjakan sesaat, melainkan peritungan rata-rata ICP sepanjang tahun berjalan 2026 yang dinilai masih berada di batas aman.
“Insyaallah sampai akhir tahun [takkan naik]. Saya dalam mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo telah merumuskan untuk ICP sampai dengan [USD] 100 dolar, rata-rata ya, rata-rata masukkan dari Januari sampai dengan sekarang,” ujar Bahlil kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Hitungan Rata-Rata Masih di Bawah Asumsi Batas Pemerintah
Menurut Bahlil, pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir memang sangat fluktuatif akibat memanasnya tensi geopolitik global. Namun, jika diakumulasikan sejak awal tahun, angka ICP Indonesia sebenarnya masih jauh di bawah pagu proyeksi anggaran pemerintah.
Berikut adalah rincian pergerakan dan kalkulasi ICP Indonesia:
- Rata-Rata Januari–Mei 2026: Bertahan di kisaran USD 80 hingga USD 81 per barel.
- Kondisi Pasar: Sempat menyentuh level tertinggi USD 117, namun kembali melandai ke level USD 90 hingga USD 80-an per barel.
- Batas Toleransi Anggaran: Pemerintah mematok batas psikologis rata-rata ICP di level USD 100 per barel berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi karena rata-ratanya belum sampai 100 dolar, belum ada rencana kenaikan. Tidak akan naik, insyaallah ya,” imbuh Bahlil optimis.
Sengatan Konflik Timur Tengah dan Blokade Selat Hormuz
Meskipun tren rata-rata tahunan masih aman, grafik bulanan sempat menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan. Kementerian ESDM mencatat rata-rata ICP pada April 2026 bertengger di level USD 117,31 per barel, atau melonjak signifikan sebesar USD 15,05 dibandingkan edisi Maret 2026 yang berada di angka USD 102,26 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa guncangan harga pada April lalu murni dipicu oleh eskalasi militer dan ketegangan politik tripartit antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pasar minyak global sepanjang beberapa pekan terakhir terus dibayangi oleh risiko gangguan pasokan (supply disruption) yang masif, menyusul serangkaian peristiwa krusial di jalur logistik dunia:
- Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak mentah dunia.
- Blokade pelabuhan-pelabuhan utama Iran oleh militer Amerika Serikat.
- Serangan udara yang menyasar sejumlah infrastruktur energi strategis di kawasan Timur Tengah.
Kendati tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda, Kementerian ESDM bersama jajaran ekonomi kabinet memastikan akan terus memelototi pergerakan pasar komoditas demi menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan ketahanan fiskal negara.










