Pameran Perpusnas Ajak Generasi Muda Kenali Warisan Nusantara

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas)/Pemprov Jakarta

Generasi.co, JAKARTA – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengajak generasi muda mengenal kekayaan pengetahuan dan budaya Nusantara melalui pameran bertajuk “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran”.

Pameran tersebut digelar dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan 2026 untuk memperkuat pemanfaatan koleksi perpustakaan sebagai sumber pembelajaran dan pengetahuan publik.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto mengatakan perpustakaan memiliki peran lebih dari sekadar tempat menyimpan koleksi.

“Selain menyimpan koleksi, perpustakaan juga menjaga ingatan bangsa agar terus dipelajari, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya,” kata Suharyanto dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Senin.

Pameran itu mempertemukan masyarakat dengan berbagai warisan manuskrip Nusantara yang telah diakui dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MOW).

Manuskrip tidak ditampilkan sekadar sebagai benda peninggalan masa lalu. Perpusnas menempatkannya sebagai warisan intelektual yang merekam gagasan, pengetahuan, nilai, pengalaman, serta perjalanan kehidupan masyarakat pada masanya.

“Warisan dokumenter yang tersimpan dalam manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk memahami identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa. Warisan dokumenter juga sekaligus menggali nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini,” ujar Suharyanto.

Perpusnas menggunakan pendekatan visual dan komunikatif untuk mendekatkan manuskrip kepada generasi muda. Reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, hingga elemen visual interaktif digunakan agar pengunjung dapat memahami cerita dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Pameran tersebut dibagi menjadi empat narasi utama.

Pertama, “Warisan Indonesia untuk Dunia” memperkenalkan manuskrip sebagai rekaman perjalanan tokoh, peristiwa, gagasan, dan pengalaman masyarakat Nusantara yang memiliki arti penting dari tingkat lokal hingga global.

Sejumlah manuskrip yang ditampilkan antara lain karya terkait Syekh Yusuf, Bo Sangaji, Sutasoma, Babad Diponegoro, Imam Bonjol, dan Trunojoyo.

Kedua, “Warisan Nilai Bersama” mengajak pengunjung melihat manuskrip sebagai media pewarisan nilai, pengetahuan, kepercayaan, dan tradisi antargenerasi. Narasi ini antara lain menghadirkan Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan.

Ketiga, “Warisan Perempuan” menyoroti pengalaman, peran, suara, serta kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu yang turut terekam dalam manuskrip.

Narasi tersebut antara lain dihadirkan melalui Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji.

Keempat, “Warisan Karya Istimewa” menghadirkan manuskrip dengan karakter khusus dari sisi isi, bentuk, bahasa, tradisi intelektual, maupun nilai dokumenternya.

Manuskrip yang ditampilkan dalam narasi ini mencakup Siksa Kandang Karesian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.

“Keempat narasi yang disuguhkan dalam pameran ini menjadi upaya untuk mengubah cara pandang terhadap manuskrip. Pengunjung tidak hanya diajak melihatnya sebagai ‘benda lama’, tetapi memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan cerita tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Suharyanto.

Melalui pameran tersebut, Hari Kunjung Perpustakaan diarahkan tidak hanya menjadi momentum untuk mengajak masyarakat datang ke perpustakaan. Perpusnas juga ingin memperluas fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan pengetahuan.

Hari Kunjung Perpustakaan berawal dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Pada 14 September 1995, Presiden Republik Indonesia Soeharto mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan.

Sejak saat itu, 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan untuk mendorong masyarakat semakin dekat dengan perpustakaan dan membangun kebiasaan membaca.

Pameran “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” menjadi bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026 yang berlangsung pada 14–30 September 2026 di Gedung Grha Literasi, Bangunan Cagar Budaya Perpusnas, Jakarta.

Selain pameran, Perpusnas menghadirkan berbagai kegiatan literasi untuk anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum. Kegiatan tersebut mencakup kelas literasi, gelar wicara, kelas menulis, literasi musik dan sinema, kegiatan kepustakawanan, serta program yang mengangkat kekayaan naskah Nusantara.

Rangkaian kegiatan juga diisi Peluncuran Buku dan Gelar Wicara “Alih Wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) & Memory of the World (MOW)”, Penganugerahan Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Seminar IKON–MOW “Naskah, Ingatan, dan Kolektivitas Bangsa”.

Selain itu, terdapat Penganugerahan Nugra Jasa Dharma Pustaloka kategori Pelestarian Naskah Kuno dan Penghargaan Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik kategori Dinas Perpustakaan, serta Kelas Literasi Sinema.