Panas! Paus Leo XIV Balas Kritikan Trump Soal Perang Iran: “Saya Tak Takut, Ini Tugas Moral!”

Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Leo XIV/IG

Jakarta, Generasi.co — Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Leo XIV, memberikan serangan balik yang tajam terhadap rentetan kritik dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sang Paus menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak gentar terhadap kecaman Trump dan memiliki “tugas moral” yang mutlak untuk bersuara menentang peperangan di Timur Tengah.

Perseteruan sengit ini meledak tak lama sebelum Paus bertolak dari Roma menuju Aljir, Aljazair, dalam rangkaian tur Afrika-nya. Konflik bermula ketika Paus Leo XIV menyerukan penghentian perang yang dipicu oleh serangan gabungan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Trump yang murka dengan seruan damai tersebut melontarkan kritik pedas, menyebut sang Paus “salah sasaran” dan menghalangi upaya AS untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

“Paus Leo mengatakan hal-hal yang salah. Dia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran, dan Anda tidak bisa membiarkan adanya Iran yang memiliki nuklir,” klaim Trump yang juga menolak untuk meminta maaf atas komentarnya.

Paus: “Gereja Bukan Politisi, Tugas Kami Bawa Damai”

Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepausan, Paus Leo XIV menegaskan posisinya. Ia menyatakan tidak berniat berdebat dengan Trump karena dirinya bukanlah seorang politisi.

“Yang ingin saya katakan adalah bahwa misi Gereja sangatlah jelas. Injil mengatakan… berbahagialah mereka yang membawa damai. Saya percaya bahwa Gereja memiliki tugas moral untuk berbicara dengan sangat jelas menentang perang dan mendukung perdamaian serta rekonsiliasi,” urai Paus Leo.

Dengan nada tegas, ia menambahkan, “Saya tidak memiliki rasa takut, baik terhadap pemerintahan Trump, maupun dalam menyuarakan pesan Injil dengan lantang.”

Sebelumnya, Paus juga melontarkan kritik keras dengan menyebut ancaman Trump terhadap warga sipil di Iran sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima”, serta mengecam perlakuan “tidak manusiawi” pemerintahan AS terhadap para imigran.

Serangan Pribadi Trump hingga Gambar AI Kontroversial

Trump tidak tinggal diam. Ia membalas dengan menyerang kredibilitas Paus, menyebutnya “LEMAH terhadap Kejahatan, dan sangat buruk dalam Kebijakan Luar Negeri”. Trump bahkan melontarkan sindiran bahwa para kardinal hanya memilih Leo sebagai Paus pada Mei 2025 lalu semata-mata karena ia adalah warga negara Amerika.

Situasi makin keruh ketika Trump sempat mengunggah gambar hasil Artificial Intelligence (AI) yang menampilkan dirinya sebagai Yesus Kristus, meski unggahan tersebut akhirnya dihapus.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turut merespons ulah Trump tersebut melalui platform X, mengutuknya sebagai sebuah “penghinaan” dan “penistaan terhadap Yesus”. Dukungan untuk Paus juga mengalir dari Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang mengutuk kritik Trump sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.

Bawa Pesan Pengampunan di Tanah Afrika

Di tengah badai politik internasional tersebut, Paus Leo XIV memulai tur Afrika-nya yang akan menempuh jarak lebih dari 18.000 kilometer melintasi Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa (13–23 April).

Dalam pidato perdananya di Aljir, Senin waktu setempat, Paus memberikan penghormatan di Monumen Martir Aljazair bagi para korban perang kemerdekaan 1954-1962 dari Prancis. Ia menyerukan pentingnya “pengampunan” di tengah memanasnya kembali hubungan Aljazair-Prancis belakangan ini.

Selama di Aljazair, Paus mencatatkan momen bersejarah dengan mengunjungi Masjid Agung Aljir yang memiliki menara tertinggi di dunia, serta Basilika Our Lady of Africa.

Kunjungan ini juga memiliki makna spiritual mendalam bagi Paus Leo. Ia dijadwalkan bertolak ke Annaba (dulu bernama Hippo)—kota asal Santo Agustinus (354-430 M), tokoh teolog Kristen sekaligus peletak dasar ordo Agustinian yang menaungi Paus Leo. Ia juga akan berdoa secara tertutup di kapel yang didedikasikan bagi 19 imam dan biarawati yang dibunuh tragis pada masa perang saudara Aljazair 1992-2002.