Prabowo Tegaskan Indonesia Tetap Nonblok di Tengah Geopolitik Dunia yang Kian Memanas

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan amanatnya pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 yang digelar di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada Senin, 1 Juni 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia akan tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan tidak memihak kekuatan mana pun di tengah situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu.

Menurut Prabowo, kebijakan nonblok yang diwariskan para pendiri bangsa menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus membangun hubungan baik dengan seluruh negara.

Pernyataan itu disampaikan Presiden saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Lampung, Rabu (10/6/2026).

“Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa lawan siapa. Kita beruntung, saya beruntung, Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik nonblok,” ujar Prabowo.

Kepala Negara menegaskan Indonesia memilih bersahabat dengan seluruh negara dan tidak ingin terlibat dalam pakta militer mana pun.

Ia menyebut arah kebijakan luar negeri tersebut langsung ditegaskan sejak dirinya menerima mandat sebagai Presiden.

“Kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan. Kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapapun. Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai Presiden, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik nonblok, politik bebas aktif. Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” katanya.

Prabowo juga menilai posisi Indonesia semakin strategis dalam percaturan global. Selain menjadi negara terbesar di ASEAN, Indonesia saat ini tergabung dalam berbagai forum internasional yang berpengaruh.

“Kita Indonesia ini, negara terbesar di ASEAN. Kita anggota APEC, anggota Konferensi Islam, OKI, sekarang anggota BRICS, anggota G20,” ujarnya.

Menurut Presiden, jaringan persahabatan yang luas dengan berbagai negara merupakan aset diplomatik yang harus dijaga untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

Karena itu, pemerintah terus membangun komunikasi dan hubungan baik dengan para pemimpin dunia sebagai bagian dari upaya melindungi kepentingan rakyat Indonesia.

“Untuk membela kepentingan rakyat, memang kita harus memelihara hubungan baik dengan semua pemerintah itu. Makanya saya katakan, politik Indonesia adalah politik tetangga yang baik. Kita ingin menjadi tetangga yang baik kepada semua negara sekitar kita dan negara yang lain di dunia,” kata Prabowo.