Puji Pertemuan Hangat Prabowo-Megawati, Wamentan Sudaryono: Kekuasaan Sementara, Persaudaraan Abadi

Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Presiden Prabowo Subianto bersilaturahmi dengan Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/02/2026). Foto: BPMI Setpres.

Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, turut memberikan pandangannya terkait pertemuan bersejarah antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, di Istana Kepresidenan pada Kamis (19/3/2026). Ia menilai momen langka tersebut sebagai cerminan nyata dari kedewasaan berpolitik para elite bangsa.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menyoroti gestur hangat Presiden Prabowo yang tak segan menyambut langsung, bahkan menggandeng tangan Megawati saat menuruni tangga Istana.

Menurutnya, interaksi lima tokoh sentral di dalam satu ruangan—yakni Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, Sufmi Dasco Ahmad, dan Didit Hediprasetyo—berhasil mencairkan kebekuan politik dan mengubah pertemuan formal kenegaraan menjadi silaturahmi yang sarat nilai kekeluargaan.

“Tidak ada dendam. Tidak ada permusuhan. Gestur sederhana ini memberi pesan, persatuan harus berada di atas segalanya,” tulis Sudaryono dalam unggahannya.

Efek Domino Kerukunan Elite ke Akar Rumput

Lebih lanjut, Wamentan menegaskan bahwa teladan yang ditunjukkan oleh para pemimpin tertinggi ini akan membawa dampak psikologis yang sangat positif bagi stabilitas masyarakat di tingkat bawah (akar rumput).

Ia merangkum tiga pesan moral krusial dari pertemuan tersebut:

  • Stabilitas Sosial: Ketika elite politik rukun dan saling menghormati, masyarakat di akar rumput otomatis akan ikut tenang dan terhindar dari polarisasi.
  • Fokus Kolaborasi: Indonesia saat ini membutuhkan kolaborasi lintas pihak untuk membangun bangsa, bukan lagi membuang energi untuk terus bertengkar mengurus perbedaan pandangan politik.
  • Esensi Bernegara: “Saya melihat momen ini sebagai pengingat. Kekuasaan itu sementara, tapi persaudaraan sebangsa itu abadi,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Sudaryono berharap pesan damai dari Istana ini dapat menular hingga ke seluruh pelosok Tanah Air. Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk meniru kebesaran hati kedua tokoh bangsa tersebut.

“Bila dua tokoh besar ini bisa tersenyum riang saling sapa, kita semua juga wajib merawat kerukunan serupa. Kedamaian bernegara bermula ketika para pemimpinnya mau saling berpegangan tangan,” pungkasnya.