Generasi.co, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menegaskan perannya sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui penyaluran pembiayaan produktif yang menyasar petani, nelayan, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.
Di tengah arah pembangunan nasional yang sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sektor ketahanan pangan, hilirisasi, dan kemandirian ekonomi menjadi fokus utama yang turut direspons industri perbankan, termasuk BNI.
BNI tidak lagi hanya berperan sebagai lembaga penyalur kredit, tetapi juga membangun ekosistem pembiayaan yang menghubungkan modal, inovasi, pasar, dan penguatan usaha dari hulu hingga hilir. Pendekatan ini menyasar rantai ekonomi rakyat mulai dari produksi hingga pemasaran.
Dalam praktiknya, BNI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, perdagangan, industri, dan jasa yang dinilai memiliki efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja di daerah.
Bagi petani, pembiayaan tersebut digunakan untuk membeli benih unggul, pupuk tepat waktu, hingga alat pertanian modern guna meningkatkan produktivitas. Sementara bagi nelayan, dana dimanfaatkan untuk perbaikan kapal, pengadaan cold storage, hingga pengembangan usaha budidaya.
Adapun pelaku UMKM mendapatkan akses modal untuk meningkatkan kapasitas produksi agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan memenuhi permintaan yang terus berkembang.
Data internal BNI menunjukkan, hingga akhir 2024 penyaluran KUR khusus sektor pangan mencapai Rp14,3 triliun atau sekitar 43 persen dari total portofolio KUR yang sebesar Rp33,2 triliun. Pembiayaan tersebut telah menjangkau lebih dari 128 ribu debitur di seluruh Indonesia.
Tren penyaluran tersebut berlanjut pada 2025, di mana hingga pertengahan tahun BNI menyalurkan pembiayaan Rp4,6 triliun kepada lebih dari 20 ribu pelaku UMKM di berbagai sektor produktif, mulai dari perdagangan hingga jasa.
Di luar penyaluran modal, BNI juga memperkuat kelembagaan usaha melalui koperasi. Langkah ini dilakukan dengan memberikan akses pendanaan, digitalisasi layanan, serta kemudahan transaksi keuangan guna memperkuat posisi tawar pelaku usaha kecil.
Setelah penguatan kelembagaan, BNI mendorong transformasi ke tahap hilirisasi. Pelaku usaha diajak untuk tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mengolah produk agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, seperti kopi yang diolah menjadi bubuk siap saji atau hasil laut yang diproduksi menjadi makanan olahan.
Untuk memperluas pasar, BNI menghadirkan platform BNI Xpora sebagai sarana pengembangan ekspor UMKM. Melalui platform tersebut, pelaku usaha mendapat pelatihan ekspor, pendampingan bisnis, akses informasi pasar global, hingga fasilitasi business matching dengan pembeli internasional.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo Budiprabowo, menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional dan perusahaan berkomitmen mendukung pertumbuhan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dari hulu hingga hilir.
Di sisi kinerja keuangan, fokus pada ekonomi kerakyatan tidak menghambat pertumbuhan bisnis BNI. Pada kuartal I 2026, penyaluran kredit BNI tumbuh 20,1 persen secara tahunan menjadi Rp919,3 triliun.
Dana pihak ketiga dalam bentuk CASA juga meningkat 26,6 persen menjadi Rp731,6 triliun. Pertumbuhan tersebut turut mendorong laba bersih sebesar Rp5,6 triliun dengan kualitas aset terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) di level 1,9 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa strategi penguatan ekonomi rakyat dan kinerja bisnis perbankan dapat berjalan beriringan. BNI menempatkan inklusi ekonomi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
Melalui integrasi pembiayaan, penguatan koperasi, hilirisasi, dan perluasan akses ekspor, BNI mempertegas posisinya sebagai mitra strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi nasional berbasis kerakyatan.










