10 Kebiasaan Sejarah “Normal” yang Kini Terasa Mengerikan dan Tidak Masuk Akal

Iklan Kosmetik Radioaktif [The Radium Craze]/Dusty Old Thing

Temukan 10 fakta sejarah kelam yang dulu dianggap wajar. Dari obat batuk heroin, kosmetik radioaktif, hingga bedah otak es batu, lihat betapa jauh peradaban telah berkembang.

Pendahuluan

Pernahkah Anda mengeluh tentang prosedur keamanan bandara yang ketat atau regulasi obat yang rumit? Bersyukurlah.

Sejarah manusia dipenuhi dengan masa-masa “coba-coba” yang mengerikan. Apa yang hari ini kita anggap sebagai tindakan ilegal atau penyiksaan, dulunya adalah prosedur medis standar atau tren kecantikan yang digandrungi masyarakat kelas atas. Artikel ini akan mengajak Anda menengok ke belakang, melihat praktik masa lalu yang membuktikan bahwa “kebijaksanaan leluhur” tidak selalu benar.

Berikut adalah 10 kebiasaan masa lalu yang dulu normal, namun kini membuat kita bergidik ngeri:

1. Heroin Sebagai Obat Batuk Anak

Di akhir abad ke-19, jika anak Anda menderita batuk atau pilek, dokter tidak akan memberi sirup paracetamol. Mereka akan meresepkan Heroin.

Pada tahun 1890-an, perusahaan farmasi raksasa Bayer mempromosikan heroin sebagai obat batuk yang “tidak menyebabkan kecanduan” dan bahkan diklaim lebih aman daripada morfin. Botol-botol heroin dijual bebas di apotek untuk menenangkan bayi yang rewel, sebelum akhirnya dilarang total karena efek adiktifnya yang mematikan.

2. Kosmetik Radioaktif (The Radium Craze)

Setelah Marie Curie menemukan Radium, dunia menjadi terobsesi dengan benda yang “bersinar dalam gelap” ini. Orang-orang percaya radioaktivitas memberi energi dan kesehatan.

Akibatnya, muncul produk seperti pasta gigi radium, cokelat radium, hingga bedak wajah radium untuk membuat kulit “bersinar”. Kasus paling tragis adalah “Radium Girls”—para wanita pengecat jam tangan yang menjilat kuas cat radium agar runcing. Mereka berakhir dengan kondisi radium jaw, di mana rahang mereka hancur dan tulang mereka keropos.

3. Lobotomi (Bedah Otak Es Batu)

Pernah merasa cemas atau murung? Di tahun 1940-an, solusinya adalah merusak otak Anda. Lobotomi adalah prosedur medis di mana dokter menusukkan alat menyerupai pemecah es (ice pick) melalui rongga mata pasien hingga mencapai otak bagian depan, lalu mengaduknya untuk memutus saraf.

Tujuannya untuk “menenangkan” pasien gangguan jiwa. Mengerikannya, penemu metode ini memenangkan Hadiah Nobel, padahal ribuan pasien berakhir menjadi seperti zombie—hidup tapi tanpa kepribadian dan emosi.

4. Kebun Binatang Manusia (Human Zoos)

Di era kolonialisme (akhir abad 19 hingga awal abad 20), rasisme dianggap sebagai sains. Di kota-kota besar seperti Paris, New York, dan London, diselenggarakan pameran yang menampilkan manusia dari suku-suku asli Afrika atau Asia di dalam kandang.

Pengunjung kulit putih akan membayar tiket untuk menonton mereka seolah-olah mereka adalah hewan eksotis. Salah satu korban paling terkenal adalah Ota Benga, seorang pria Kongo yang dipamerkan di Kebun Binatang Bronx bersama orangutan.

5. Diet Cacing Pita (The Tapeworm Diet)

Standar kecantikan wanita zaman Victoria menuntut tubuh yang sangat ramping. Tanpa gym dan clean eating, mereka memilih jalan pintas ekstrem: Menelan pil berisi telur cacing pita.

Teorinya, cacing akan menetas di perut, memakan sebagian makanan yang masuk, sehingga wanita bisa makan banyak tanpa gemuk. Namun, risikonya mencakup kekurangan gizi parah, sakit perut kronis, hingga cacing yang tumbuh hingga 9 meter dan menyumbat saluran pencernaan.

6. Merokok Direkomendasikan Dokter

Sebelum tahun 1950-an, bahaya kanker paru-paru belum terhubung jelas dengan rokok. Malah, perusahaan rokok menggunakan dokter dalam iklan mereka.

Slogan seperti “Dokter lebih banyak merokok Camel daripada rokok lainnya” adalah hal lumrah. Bahkan, merokok sering disarankan untuk ibu hamil guna menenangkan saraf atau mengontrol berat badan, dan asap rokok ditiupkan ke telinga anak-anak sebagai “obat” sakit telinga.

7. Bloodletting (Buang Darah)

Selama ribuan tahun, dari Mesir kuno hingga abad ke-19, dokter percaya bahwa penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan tubuh. Solusinya? Keluarkan darahnya.

Pasien yang demam, sakit kepala, atau infeksi akan disayat pembuluh darahnya atau ditempeli lintah untuk menyedot darah. Tragisnya, Presiden pertama AS, George Washington, meninggal sebagian besar karena ia kehilangan terlalu banyak darah (sekitar 40% dari total darahnya) dalam prosedur ini saat ia sedang sakit tenggorokan.

8. Asbes Sebagai “Salju” Palsu

Asbes (asbestos) dulunya dipuja sebagai “mineral ajaib” karena tahan api. Ia digunakan di mana-mana: isolasi rumah, pakaian, hingga mainan.

Yang paling mengerikan, asbes sering digunakan sebagai salju buatan di lokasi syuting film Hollywood, termasuk film The Wizard of Oz. Para aktor bernyanyi dan menari sambil dihujani serat karsinogenik (penyebab kanker) yang jika terhirup akan merusak paru-paru secara permanen puluhan tahun kemudian.

9. Foot Binding (Kaki Lotus)

Di Tiongkok kuno, kaki kecil dianggap sebagai puncak kecantikan dan status sosial wanita. Praktik foot binding dimulai sejak anak perempuan berusia 4-6 tahun.

Jari-jari kaki mereka ditekuk ke bawah telapak kaki, lalu diikat sangat kencang dengan kain hingga tulang-tulangnya patah dan bentuk kaki berubah menyerupai kuncup bunga teratai. Meski terlihat “cantik” bagi standar masa itu, wanita-wanita ini hidup dalam kesakitan kronis dan sering kali tidak bisa berjalan dengan normal seumur hidup.

10. Arsenik untuk Kulit Putih

Ingin kulit putih pucat seperti bangsawan? Makanlah racun. Di abad ke-19, wafer yang mengandung arsenik dijual sebagai produk kecantikan untuk menghilangkan bintik-bintik wajah dan memutihkan kulit.

Arsenik memang bekerja dengan cara menghancurkan sel darah merah, yang membuat kulit tampak pucat. Namun, efek samping jangka panjangnya adalah kerontokan rambut, kerusakan ginjal, gondok, dan kematian perlahan yang menyakitkan.

Kesimpulan

Membaca daftar di atas mungkin membuat kita merasa mual, tetapi juga bersyukur. Pengetahuan ini adalah pengingat bahwa “normal” adalah konsep yang terus berubah. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran mutlak hari ini, mungkin akan ditertawakan oleh generasi mendatang.

Sains dan etika berkembang melalui kesalahan-kesalahan fatal di masa lalu. Kita beruntung hidup di zaman di mana label komposisi makanan wajib dicantumkan dan prosedur medis harus melalui uji klinis ketat.

Satu langkah kecil untuk Anda: Coba periksa lemari obat atau kosmetik Anda. Apakah ada produk kedaluwarsa atau bahan yang meragukan? Membuangnya sekarang adalah bentuk apresiasi terhadap standar kesehatan modern yang kita nikmati saat ini.

Suka dengan fakta-fakta mencengangkan ini? Bagikan artikel ini agar teman-teman Anda juga bersyukur tidak hidup di zaman di mana sakit batuk diobati dengan heroin!