Buntut Pencatutan Nama Narasi dan Bapak2ID, Bakom Klarifikasi Tak Ada Kontrak dengan Homeless Media

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Muhammad Qodari /KSP

Jakarta, Generasi.co — Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) akhirnya angkat bicara menyusul gelombang protes dari sejumlah media dan pengelola akun media sosial populer. Bakom menegaskan bahwa institusinya tidak memiliki kontrak kesepakatan apa pun dengan homeless media atau new media yang disebut tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF).

Klarifikasi ini dikeluarkan langsung oleh Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom, Kurnia Ramadhana, pada Kamis (7/5/2026), demi meredam kegaduhan publik.

“Tidak ada kontrak, arahan editorial, maupun bentuk kemitraan yang mengikat media tertentu untuk mendukung pemerintah,” tulis Kurnia dalam keterangan resminya.

Latar Belakang: Protes Keras Bapak2ID hingga Narasi

Pernyataan klarifikasi dari Bakom ini merupakan buntut dari pernyataan Kepala Bakom, Muhammad Qodari, sebelumnya yang mengklaim sejumlah new media telah menjadi mitra pemerintah. Klaim sepihak ini langsung memicu bantahan keras.

Salah satu akun media sosial besar yang namanya dicatut, @Bapak2ID, secara tegas membantah terlibat dalam INMF maupun bermitra dengan pemerintah. Mereka mengaku sangat terkejut saat nama akun mereka disebut oleh Qodari.

“Tidak, kami tidak ikut. Kami tidak tergabung di mana-mana. Kami saja kaget dengar kabar ini. Kami sama sekali tidak terlibat, tidak hadir, dan tidak mengerti soal itu,” tulis pernyataan resmi melalui akun Instagram @bapak2id, Kamis (7/5/2026).

Bantahan senada dan lebih tegas juga dilayangkan oleh Narasi. Media yang didirikan oleh Najwa Shihab tersebut menyatakan tidak mengetahui, tidak pernah terlibat, dan tidak menghadiri pertemuan maupun konferensi pers Bakom pada 6 Mei lalu.

“Narasi merupakan media resmi yang terdaftar dan terverifikasi Dewan Pers dengan nomor sertifikat 472/DP-Verifikasi/K/XI/2019. Narasi beroperasi sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik yang tercantum pada situs resmi Dewan Pers,” tegas pernyataan di akun Instagram @narasinewsroom.

Dalih Bakom: Istilah ‘Mitra’ dan Dokumen INMF

Merespons penolakan dari pihak-pihak yang dicatut, Kurnia Ramadhana meluruskan maksud kata ‘mitra’ yang diucapkan oleh M. Qodari. Menurutnya, kemitraan itu sebatas pengertian fungsional: media membutuhkan berita, sementara pemerintah perlu menyampaikan informasi ke masyarakat. Ia memastikan Bakom sangat menghormati independensi media konvensional maupun new media.

Terkait dari mana nama-nama media tersebut bisa muncul dan diklaim oleh Qodari, Kurnia berdalih bahwa Bakom hanya merujuk pada dokumen yang diserahkan oleh pihak INMF.

Kurnia menceritakan, awalnya Bakom menerima permohonan audiensi dari kelompok yang mengatasnamakan INMF pada Selasa (5/5/2026). Dalam pertemuan itu, INMF menyerahkan sebuah dokumen berjudul “New Media Forum 2026” yang di dalamnya tercantum daftar nama entitas yang mereka sebut sebagai New Media Players.

“Penyebutan nama-nama new media dalam konferensi pers (Rabu, 6/5) tersebut didasarkan pada dokumen yang diberikan oleh INMF,” kilah Kurnia.

Kurnia menambahkan, pertemuan dengan INMF semata-mata bertujuan membuka ruang komunikasi. Pihaknya terbuka terhadap kritik, koreksi, dan menegaskan jika ada framing yang menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik, hal itu akan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan bagi BKN.