Jakarta — Generasi.co — Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, membeberkan alasan strategis di balik kunjungan kerja maraton yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto ke tiga negara Eropa pada akhir Mei 2026. Gerindra menegaskan bahwa safari diplomatik ini bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan langkah cepat untuk mengonversi keunggulan komoditas nasional dan posisi geopolitik Indonesia menjadi investasi konkret.
Menurut Sugiat, langkah taktis ini harus diambil sebelum jendela peluang global tertutup bagi Indonesia.
Bukan Peminta-minta, Prabowo Bawa Posisi Tawar Dominan
Partai Gerindra menekankan bahwa dalam lawatan ke Eropa kali ini, posisi Indonesia sangat kuat dan terhormat di mata internasional. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Indonesia menguasai sekitar 65 persen cadangan nikel dunia, yang merupakan komoditas vital bagi industri kendaraan listrik global.
“Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia,” tegas Sugiat Santoso dalam keterangan pers tertulisnya, Jumat (29/5/2026).
Misi di Perancis: Membangun Benteng Pertahanan bersama Macron
Perancis menjadi titik awal yang krusial karena statusnya sebagai salah satu poros kekuatan militer dan raksasa teknologi terbesar di Eropa Barat. Sugiat menjelaskan, hubungan politik yang kuat dengan Perancis diperlukan agar Indonesia bisa memperluas kerja sama strategis, terutama di sektor industri pertahanan.
Kedekatan politik yang dibangun secara bertahap melalui kunjungan berulang disebut sebagai syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Presiden Emmanuel Macron.
Alasan Strategis Kunjungi Austria dan Hungaria
Setelah menyelesaikan agenda di Paris, Perancis, Presiden Prabowo dijadwalkan langsung melanjutkan perjalanan ke Austria dan Hungaria. Sugiat memaparkan bahwa kedua negara di Eropa Tengah ini memiliki posisi spesifik yang sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program hilirisasi Indonesia:
- Austria (Gerbang Industri Manufaktur Presisi): Negara ini dibidik karena keunggulannya dalam ekosistem manufaktur presisi di Eropa Tengah. Industri utamanya meliputi sektor permesinan, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, hingga makanan dan minuman.
- Hungaria (Pusat Gigafactory Uni Eropa): Hungaria dinilai sebagai pusat pembangunan pabrik baterai mobil listrik (gigafactory) paling agresif di Uni Eropa. Masuknya Indonesia ke Hungaria ditargetkan untuk mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka.
Melalui diplomasi ekonomi dan pertahanan yang agresif di Paris, Wina, dan Budapest ini, Gerindra optimistis Presiden Prabowo dapat mengamankan masa depan industri strategis nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di panggung global.










