Cebu, Generasi.co — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mendesak negara-negara ASEAN untuk segera mengakselerasi pembangunan jaringan energi regional. Seruan tegas ini disampaikan Kepala Negara menyusul meningkatnya tekanan global dan instabilitas di kawasan Timur Tengah yang dinilai menjadi ancaman nyata bagi ketahanan energi.
Berbicara dalam forum Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) Special Summit di Cebu, Filipina, pada Kamis, Presiden Prabowo menekankan bahwa ketahanan energi kini bukan lagi sekadar target jangka panjang, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera dieksekusi.
“Ketahanan energi adalah salah satu isu paling kritis yang kita hadapi saat ini. Dengan meningkatnya tekanan global dan instabilitas di Timur Tengah, ini bukan lagi masalah jangka panjang, melainkan masalah yang sangat mendesak,” tegas Presiden Prabowo, sebagaimana dikutip dari antaranews.com.
Potensi Energi Bersih dan Target 100 GW RI
Di hadapan para pemimpin subkawasan, Presiden menyoroti besarnya potensi alam yang dimiliki negara-negara BIMP-EAGA untuk pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Sebagai bentuk komitmen nyata dari dalam negeri, Prabowo turut memaparkan target ambisius Indonesia untuk mencapai kapasitas 100 Gigawatt (GW) khusus dari pembangkit listrik tenaga surya.
Perluasan Trans Borneo Power Grid
Guna mewujudkan ketahanan energi kawasan tersebut, Presiden menyerukan langkah-langkah konkret untuk memperkuat konektivitas lintas batas. Salah satu inisiatif utama yang didorong adalah perluasan jaringan listrik Trans Borneo Power Grid.
Namun, Prabowo mengingatkan bahwa realisasi megaproyek energi bersih ini membutuhkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Ia menekankan pentingnya kepastian pendanaan (investasi), pemanfaatan keahlian teknis tingkat tinggi, serta pendalaman kemitraan dengan negara-negara sekutu pembangunan regional.
Menurutnya, sinergi tersebut sangat krusial tidak hanya untuk memastikan stabilitas energi jangka panjang, tetapi juga sebagai fondasi penting bagi ketahanan pangan di seluruh kawasan ASEAN.










