JAKARTA, Generasi.co — Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil membongkar sistem pengamanan berlapis di kampung narkoba Gang Langgar, Samarinda, Kalimantan Timur. Sindikat yang telah beroperasi selama empat tahun ini tergolong sangat rapi dan licin karena mempekerjakan puluhan pengawas yang dijuluki “sniper”.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, mengungkapkan kronologi dan alur ketat yang harus dilalui oleh setiap pembeli sebelum bisa mendapatkan narkotika jenis sabu di wilayah tersebut.
Berikut adalah kronologi rintangan berlapis dari hilir ke hulu di Gang Langgar:
Tahap 1: Penyaringan Awal di Depan Minimarket
Alur transaksi dimulai jauh sebelum pembeli memasuki area pemukiman Gang Langgar. Sindikat ini menempatkan pos pengawasan terluar di sebuah minimarket yang terletak di dekat pintu masuk kampung.
- Skrining Visual: Seorang “sniper” yang berjaga di depan minimarket akan memantau setiap orang yang datang.
- Kode Rahasia: Jika situasi dinilai aman dari pergerakan aparat, pengawas tersebut akan memberikan isyarat tangan tersirat berupa kode “masuk-masuk”.
- Komunikasi HT: Pengawas pertama kemudian langsung mengirimkan informasi visual tersebut via Handy Talky (HT) kepada jaringan pengawas di dalam gang.
Tahap 2: Pengawalan Ketat Sepanjang Lorong Gang
Setelah lolos dari pos minimarket, pembeli mulai memasuki lorong utama Gang Langgar. Di sepanjang rute ini, ruang gerak pembeli dipantau secara spionase.
- Barikade Puluhan HT: Terdapat 21 pengawas bersenjatakan HT yang berdiri berjejer di sepanjang jalan menuju titik utama (Blok F).
- Sistem Intelijen Waktu: Jumlah pengawas ini dinamis dan bertambah berkali-kali lipat di malam hari. Pada siang hari dikerahkan 22 “sniper”, sementara pada malam hari membengkak hingga 31 orang demi mengantisipasi penyergapan malam.
- Penuntunan Terpandu: Puluhan pengawas ini bertugas mengarahkan pembeli sekaligus memastikan tidak ada gerak-gerik mencurigakan.
Tahap 3: Pemisahan dan Sterilisasi di Perempatan Blok F
Begitu pembeli tiba di perempatan Gang Blok F—yang merupakan zona penyangga sebelum lapak utama—aturan militer sindikat mulai diberlakukan secara ketat.
- Aturan Tunggal: “Sniper” di lokasi ini mewajibkan hanya satu orang pengendara saja yang boleh melanjutkan perjalanan ke titik penjualan.
- Pencegahan Intel: Apabila pembeli datang berboncengan, salah satu di antaranya dipaksa turun dan wajib menunggu di perempatan Blok F di bawah pengawasan ketat para pelaku lainnya.
Tahap 4: Transaksi Akhir di Lapak Benteng H Endi
Hanya pembeli tunggal yang lolos sterilisasi yang diperbolehkan masuk ke jantung pertahanan di Blok F Gang Langgar, tempat transaksi keuangan dilakukan.
- Sistem Tunai Kelipatan: Pengguna menyerahkan uang tunai langsung di lapak penyerahan. Satu klip kecil sabu dijual dengan harga flat Rp150.000 dan berlaku sistem kelipatannya.
- Komando Benteng Elektronik: Pusat transaksi ini dilindungi dengan sistem keamanan tinggi di rumah milik bandar besar bernama H Endi (kini berstatus DPO).
Akhir Pelarian 4 Tahun Sindikat Licin
Meskipun memiliki skema pengamanan yang sangat rapi dan sempat beberapa kali lolos dari sergapan petugas lokal, pelarian sindikat ini akhirnya kandas di tangan tim gabungan Bareskrim Polri.
“Sindikat ini cukup licin karena beberapa kali dilakukan operasi oleh polisi setempat, namun tidak berhasil. Mereka sudah beroperasi sekitar 4 tahun,” jelas Kanit 2 Subdit 4 Dittipid Narkoba Bareskrim Polri, AKBP Bayu Putra Samara, Sabtu (16/5/2026).
Dalam operasi pembersihan besar-besaran tersebut, polisi berhasil meringkus 11 orang tersangka tanpa perlawanan berarti. Selain menangkap para operator lapangan, petugas juga menggeledah benteng pertahanan milik H Endi dan menyita sejumlah peralatan canggih yang digunakan untuk melawan deteksi aparat.
Barang bukti taktis yang berhasil diamankan dari tempat kejadian perkara meliputi:
- 1 unit pesawat tanpa awak (drone) merek DJI Mavic untuk patroli udara.
- 1 set komputer (PC) merek ASUS sebagai pusat monitoring.
- 2 unit kamera pengawas (CCTV) pemantau perimeter.
- 1 bilah senjata tajam jenis samurai.
- Puluhan amplop kemasan siap edar.
Hingga saat ini, Bareskrim Polri masih melakukan pengejaran intensif terhadap H Endi selaku otak utama di balik perputaran bisnis haram berbenteng puluhan “sniper” tersebut.










