Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi merupakan keputusan berat yang diambil pemerintah untuk menjaga keberlanjutan subsidi energi bagi masyarakat yang paling membutuhkan.
Menurut Eddy, pemerintah dan PT Pertamina selama ini telah menahan penyesuaian harga meski harga minyak mentah dunia melonjak tajam akibat konflik di Timur Tengah.
“Ketika di bulan pertama perang di Timur Tengah, kita melihat bahwa harga minyak mentah dunia melonjak dari sekitar 65 dolar AS menjadi sekitar 100 dolar AS bahkan 110 dolar AS. Tetapi selalu ditahan oleh pemerintah, selalu ditahan oleh Pertamina,” kata Eddy dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menjelaskan, penyesuaian harga saat ini hanya terjadi pada BBM nonsubsidi, sementara pemerintah tetap mempertahankan harga sejumlah energi bersubsidi seperti Pertalite, Biosolar, dan LPG tabung 3 kilogram.
Menurut Eddy, langkah tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada kelompok masyarakat rentan yang masih bergantung pada subsidi energi.
“Kita memang melihat adanya kenaikan di BBM nonsubsidi. Tetapi untuk BBM subsidi, apakah itu Pertalite, Biosolar, bahkan juga LPG 3 kilogram, harganya tidak naik,” ujarnya.
Eddy menilai kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi di tengah tekanan harga energi global membutuhkan ruang fiskal yang besar. Karena itu, pemerintah memilih melakukan penyesuaian pada BBM nonsubsidi.
“Saya melihat ini sebagai asistensi dari pemerintah untuk tetap mempertahankan BBM bersubsidi. Yang nonsubsidi memang dengan berat hati merupakan keputusan yang berat yang diambil,” katanya.
Ia menegaskan, tujuan utama kebijakan tersebut adalah menjaga ketahanan fiskal negara agar pemerintah tetap mampu membiayai subsidi energi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Untuk menjaga agar ketahanan fiskal kita mampu tetap menjaga pembelian BBM subsidi kepada masyarakat yang paling rentan, itu tetap dipertahankan. Kompensasinya memang harus ada kenaikan Pertamax dan BBM lainnya,” ujar Eddy.
Eddy juga mengakui kebijakan tersebut menimbulkan kejutan di tengah masyarakat. Namun, menurut dia, tekanan akibat lonjakan harga minyak dunia sudah terjadi sejak awal konflik di Timur Tengah dan selama ini dampaknya telah ditahan oleh pemerintah serta Pertamina.
Dengan demikian, kata dia, penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi dari upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan keberlanjutan program subsidi energi nasional.










