SMAN 1 Bontang memastikan diri menjadi wakil Kalimantan Timur pada Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tingkat Nasional 2026 setelah keluar sebagai juara pada kompetisi tingkat provinsi yang digelar di Balikpapan, Sabtu (13/6/2026).
Kemenangan diraih setelah sekolah tersebut menyingkirkan dua finalis lainnya, yakni MAN Insan Cendekia Paser dan SMAN 1 Sangatta Utara, dalam persaingan yang berlangsung ketat hingga sesi terakhir.
“Grup B SMAN 1 Bontang dari Bontang sebagai pemenang Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Timur dan berhak mewakili Provinsi Kalimantan Timur ke Tingkat Nasional,” ujar Dewan Juri dari Universitas Mulawarman, Alim Salamah.
Pada babak final, SMAN 1 Bontang mengumpulkan 95 poin. Mereka unggul tipis atas MAN Insan Cendekia Paser yang meraih 90 poin, sementara SMAN 1 Sangatta Utara berada di posisi ketiga dengan 60 poin.
Sebelum mencapai final, sembilan sekolah berhasil lolos dari seleksi tingkat kabupaten dan kota yang diikuti ratusan sekolah se-Kalimantan Timur. Kesembilan sekolah tersebut adalah SMA Nasional KPS, SMAN 1 Tenggarong, SMAN 10 Samarinda, MAN Kutai Barat, SMAN 2 Berau, SMAN 1 Sangatta Utara, SMKN 1 Bontang, SMAN 1 Bontang, dan MAN Insan Cendekia Paser.
Kompetisi berlangsung melalui tiga tahapan utama, yakni sesi Wawasan Empat Pilar, Tematik, dan Rebutan. Pada sesi tematik, peserta dituntut menyampaikan argumentasi pro dan kontra atas studi kasus yang ditentukan melalui undian. Sementara sesi rebutan menjadi penentu karena menguji kemampuan individu peserta menjawab pertanyaan secara cepat dan tepat.
Dari tiga grup penyisihan, SMAN 1 Sangatta Utara, SMAN 1 Bontang, dan MAN Insan Cendekia Paser berhasil melaju ke babak final.
Perwakilan SMAN 1 Bontang, Khairunnisa, mengungkapkan keberhasilan timnya diraih di tengah waktu persiapan yang terbatas karena berbarengan dengan ujian semester.
“Kita mengutamakan konsistensi dan saling memberikan bantuan satu sama lain. Jadi kalau misalnya teman mengalami kesulitan dalam memahami materi sebelum persiapan lomba ini, kita saling membantu,” ujarnya.
Ia mengaku seluruh anggota tim meningkatkan intensitas belajar dalam beberapa hari terakhir menjelang perlombaan.
“Tadi malam adalah perjuangan yang sesungguhnya, karena ada yang cuma tidur satu jam, ada yang cuma tidur dua jam,” katanya.
Menurut Khairunnisa, persiapan sebenarnya telah dimulai sekitar satu bulan sebelum lomba. Namun latihan intensif baru dilakukan dalam tiga hari terakhir melalui simulasi, pendalaman materi, serta pembahasan pasal-pasal yang menjadi materi kompetisi.
Guru pendamping sekaligus guru PPKn SMAN 1 Bontang, Miftahul Fadli Sudirman, mengatakan peta persaingan tahun ini tergolong dinamis. Ketiga sekolah yang lolos ke final bukan merupakan finalis pada edisi sebelumnya.
SMAN 1 Bontang bahkan sempat tertinggal dalam perolehan poin sebelum akhirnya mampu membalikkan keadaan dan meraih gelar juara.
Menghadapi babak nasional di Jakarta, Miftahul menegaskan timnya akan meningkatkan intensitas latihan dan fokus menjaga konsentrasi para siswa agar dapat bersaing di level yang lebih tinggi.
Kemenangan ini juga menjadi momentum kebangkitan SMAN 1 Bontang setelah cukup lama absen dari kompetisi tersebut. Terakhir kali sekolah itu menembus tingkat provinsi adalah pada 2019.
“Untuk menyiasatinya, kami banyak mencari referensi melalui media sosial, terutama dengan mempelajari video-video final lomba di provinsi sebelumnya. Dari sanalah kami banyak belajar, mengevaluasi diri, dan mencoba beradaptasi dengan perkembangan perlombaan LCC Empat Pilar hari ini,” ujar Miftahul.
Selain keberhasilan para peserta, penyelenggaraan LCC Empat Pilar tahun ini juga menghadirkan sejumlah pembaruan. Salah satunya adalah penerapan sistem Video Assistant Referee (VAR) untuk mendukung proses penilaian dan penyelesaian sengketa hasil perlombaan.
Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Sekretariat Jenderal MPR RI, Wachid Nugroho, mengatakan sistem tersebut diterapkan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas kompetisi.
“Tahun ini ada beberapa pembaruan dalam perlombaan, salah satunya menerapkan sistem VAR. Jadi, jika ada perselisihan atau ketidakpuasan terkait hasil, juri akan menilai kembali melalui rekaman video yang bisa dilihat bersama,” kata Wachid saat technical meeting di Balikpapan, Jumat (12/6/2026).
Seluruh tahapan lomba direkam dan dapat digunakan sebagai bahan peninjauan ulang apabila terdapat keberatan terhadap hasil pertandingan.
Guru pendamping SMAN 1 Bontang turut mengapresiasi langkah MPR RI yang dinilai terus melakukan evaluasi dan mengakomodasi berbagai masukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan kompetisi.
“Kami sangat mengapresiasi pihak MPR RI atas pelaksanaan lomba yang dinilai semakin baik dan transparan. MPR mau mendengar keluhan masyarakat dan langsung melakukan evaluasi,” ujarnya.
Selain menentukan wakil Kalimantan Timur ke tingkat nasional, panitia juga memberikan penghargaan yel-yel terbaik kepada SMAN 1 Sangatta Utara, SMAN 1 Tenggarong, dan SMKN 1 Bontang.
LCC Empat Pilar MPR RI merupakan ajang tahunan yang bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Kompetisi diselenggarakan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Para pemenang tingkat provinsi akan mewakili daerah masing-masing pada putaran nasional di Jakarta untuk memperebutkan gelar juara nasional sekaligus menjadi duta pemasyarakatan nilai-nilai kebangsaan di kalangan pelajar.










