BNI Pastikan Kredit ke Sektor Riil Tetap Jalan Meski BI Naikkan Suku Bunga ke 5,50 Persen

BNI Himpun USD700 Juta dari AT1, Permintaan Investor Oversubscribe 3,6 Kali/Ist.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memastikan tetap menjaga penyaluran pembiayaan ke sektor riil meski Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Perseroan menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan kenaikan BI Rate merupakan respons terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, stabilitas makroekonomi merupakan prasyarat penting agar industri perbankan dapat menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan. Kondisi pasar yang lebih terkendali juga memberi ruang bagi bank untuk tetap menyalurkan pembiayaan secara prudent, selektif, dan produktif.

Meski demikian, BNI tetap mewaspadai dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit, terutama dari sektor usaha yang sensitif terhadap kenaikan biaya dana. Karena itu, perseroan akan terus menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan ekonomi, arah kebijakan moneter, dan kebutuhan pembiayaan nasabah.

Perkuat Digitalisasi dan Manajemen Risiko

Di tengah perubahan suku bunga, BNI melanjutkan transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis. Pemanfaatan teknologi dilakukan dalam pengembangan layanan perbankan, peningkatan pengalaman nasabah, hingga optimalisasi proses kredit agar lebih cepat dan efektif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Perseroan juga memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan manajemen risiko untuk menjaga kualitas aset serta ketahanan bisnis. Pemantauan terhadap portofolio kredit, profil risiko, kondisi likuiditas, hingga perkembangan pasar dan ekonomi dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari mitigasi risiko.

“Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Okki.

BNI menegaskan akan terus memantau perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis tetap adaptif. Dukungan permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan pengelolaan risiko yang prudent menjadi modal perseroan untuk menjaga kinerja berkelanjutan sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.

Bank Indonesia sebelumnya menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengantisipasi tekanan eksternal yang berasal dari ketidakpastian ekonomi global serta dinamika pasar keuangan internasional.

Kenaikan suku bunga acuan umumnya berdampak pada biaya dana perbankan dan permintaan kredit dari dunia usaha. Karena itu, respons industri perbankan menjadi perhatian pasar untuk melihat sejauh mana fungsi intermediasi tetap berjalan dan pembiayaan bagi sektor produktif dapat terus terjaga di tengah perubahan kebijakan moneter.