Dari Kandang Kecil ke 1.000 Ayam, Peternak Bekasi Ini Kembangkan Usaha Lewat KUR BRI

Ayam Petelur/Pexels

Generasi.co, Bekasi – Di sebuah kampung di Kabupaten Bekasi, usaha ayam petelur yang dirintis dari nol oleh Nirin Samsudin kini berkembang menjadi jaringan usaha yang melibatkan warga sekitar dan menggerakkan ekonomi lokal. Berawal dari kandang kecil di samping rumah, usahanya kini mencapai ribuan ekor ayam dan meluas ke beberapa lokasi peternakan lain.

Perjalanan Nirin dimulai pada 2020 ketika ia melihat peluang usaha saat bekerja mengangkut pakan ternak. Dari pengamatannya terhadap para peternak di sekitar tempatnya bekerja, ia kemudian memutuskan mencoba usaha ayam petelur meski tanpa modal memadai.

Dengan modal awal sekitar Rp 60 juta yang diperoleh dari pinjaman, ia membangun kandang dan memulai usaha dengan sekitar 700 ekor ayam. Dalam dua tahun, pinjaman tersebut berhasil dilunasi.

Setelah usahanya berjalan stabil, Nirin mulai melakukan ekspansi. Ia kemudian mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp 100 juta dengan tenor tiga tahun untuk memperbesar kandang dan menambah jumlah ayam menjadi sekitar 1.000 ekor. Pinjaman tersebut digunakan untuk pengembangan usaha secara bertahap.

Usai pelunasan, pada 2026 ia kembali mengajukan pinjaman Rp 100 juta untuk renovasi kandang serta pembelian ayam petelur dari peternak di Tangerang.

Dari usaha tersebut, kandang Nirin yang berisi 1.000 ekor ayam menghasilkan produksi telur sekitar 55–57 kilogram per hari. Produk telur itu relatif cepat terserap pasar karena dijual langsung ke warga sekitar hingga warung sembako di kampungnya.

“Telurnya itu nggak pernah numpuk, selalu laku,” kata Nirin.

Namun, di balik lancarnya penjualan, biaya operasional yang ditanggung cukup besar. Ia mengeluarkan sekitar Rp 2 juta per bulan untuk operasional kandang, sementara biaya pakan mencapai sekitar Rp 19 juta per bulan.

Ayam petelur yang dipeliharanya biasanya dibeli saat berusia sekitar 13 minggu. Setelah satu bulan masa pemeliharaan, ayam mulai produktif dan dapat menghasilkan telur hingga sekitar dua tahun sebelum memasuki masa afkir.

Ayam afkir tersebut kemudian dijual kembali, terutama saat momen tertentu seperti lebaran, ketika harga cenderung meningkat dan bisa mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per ekor.

Dalam perhitungan usaha, Nirin mengaku bisa meraih keuntungan bersih sekitar Rp 14 juta per bulan dari penjualan telur. Di sisi lain, ia juga memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp 12 juta dari usaha pemasokan pakan untuk peternak lain.

Selain itu, kotoran ayam dari kandangnya juga dimanfaatkan warga sebagai pupuk tanaman dan dijual sekitar Rp 10 ribu per karung. Aktivitas ini turut memberikan nilai ekonomi tambahan bagi lingkungan sekitar.

Keberhasilan usaha tersebut turut mendorong tumbuhnya peternak lain di wilayahnya. Saat ini, Nirin diketahui telah membantu pengembangan sekitar tujuh lokasi peternakan dengan total sekitar 8.000 ekor ayam.

Ia juga terlibat dalam penyediaan pakan yang dibeli langsung dari pabrik di Cikiwul, Bantargebang, Bekasi, yang tidak hanya digunakan untuk usahanya sendiri tetapi juga disalurkan ke peternak lain.

Bagi Nirin, kunci utama dalam menjalankan usaha adalah menjaga kepercayaan. Prinsip itu membuatnya memilih untuk tidak mengambil keuntungan berlebihan, bahkan saat harga pakan naik.

“Contohnya kayak sekarang pakan lagi mahal nih, saya nggak naikin. Lebih baik saya enggak ngambil untung, yang penting orang enggak ngeluh,” ujarnya.

Ia menambahkan, prinsipnya adalah menjaga agar pelanggan tidak terbebani sehingga hubungan usaha tetap berjalan baik.

Di sisi lain, Kepala BRI Unit Setu Bekasi, Setia Adi, menegaskan bahwa BRI terus berkomitmen mendukung pelaku UMKM melalui program KUR. Menurutnya, pembiayaan tersebut tidak hanya membantu usaha berkembang, tetapi juga mendorong dampak ekonomi di masyarakat.

Ia juga menyebutkan bahwa pendampingan rutin dilakukan kepada nasabah agar usaha mereka dapat naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan.

Melalui kombinasi pembiayaan, penguatan usaha, dan perluasan jaringan, kisah Nirin menunjukkan bagaimana usaha kecil berbasis peternakan mampu berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal di daerah.