Generasi.co, Washington – Partai Demokrat merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dalam pemilu sela, setelah Partai Republik kehilangan tujuh kursi di Senat dan 25 kursi di DPR. Penghitungan suara masih berlangsung, dilansir melalui Unilad.
Hasil itu dibaca sebagai referendum yang tidak menguntungkan bagi dua tahun terakhir pemerintahan Presiden Donald Trump. Wakil Presiden JD Vance menyebut perang dengan Iran, inflasi, dan naiknya biaya hidup sebagai penyebab kekalahan partainya.
Trump membalas lewat Truth Social dengan nada menantang. “Saya tidak ada di surat suara, dan seandainya ada, kami akan menang telak!” tulisnya.
Dalam percakapan telepon larut malam dengan CBS News, Trump kemudian mengucapkan selamat kepada Demokrat. “Pesan saya, selamat kepada Demokrat, dan saya menantikan kerja sama dengan kalian demi kebaikan negara kita,” katanya. Ia menambahkan bahwa dirinya memiliki banyak kekuatan veto dan yakin dapat menyelesaikan persoalan bersama Kongres.
Akun X Gedung Putih juga mengunggah pesan setelah hasil pemilu keluar pada Rabu (4/11/2026) pukul 20.30. Unggahan itu menampilkan foto Trump menatap tajam ke kamera dengan tulisan besar “PSA: TRUMP IS STILL YOUR PRESIDENT”. Keterangannya berbunyi, “Terima kasih atas perhatian Anda pada masalah ini.”
Unggahan tersebut menuai pro dan kontra. Sejumlah pengguna X menyebutnya memalukan dan kekanak-kanakan. Seorang pengguna menilai kantor paling berkuasa di dunia direduksi menjadi unggahan sinis ala anak sekolah menengah.
Demokrat merayakan kemenangan di dua kamar Kongres lewat unggahan singkat di X: “Mari kita bekerja.”
Dari luar negeri, negosiator utama Iran untuk AS, Mohammad Bagher Qalibaf, mengaitkan hasil pemilu dengan perang yang tidak populer. “Hati nurani atau biaya hidup, rakyat Amerika berkata TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini,” tulisnya di X.
CEO Tesla Elon Musk, yang menyumbang hampir setengah miliar dolar AS bagi kandidat Republik, ikut berkomentar. Ia menulis di X bahwa laser luar angkasa miliknya untuk mengintervensi pemilu tidak berhasil kali ini.
Jika tidak ada perubahan, Trump akan tetap berada di Gedung Putih hingga 20 Januari 2029, saat masa jabatan empat tahunnya berakhir. Ia tidak dapat mencalonkan diri untuk periode ketiga, karena Amandemen ke-22 Konstitusi AS melarang seseorang terpilih sebagai presiden lebih dari dua kali.
Sebelum hasil pemilu keluar, pakar menilai pemakzulan Trump untuk ketiga kalinya menjadi kemungkinan yang realistis jika Demokrat menguasai DPR. Dr. Schatz menyebut hal itu jauh dari pasti dan menilai penyelidikan lebih mungkin ditempuh ketimbang pemakzulan segera. Menurut dia, penentunya adalah siapa yang mengendalikan DPR, bukti yang muncul, dan kemampuan pimpinan Demokrat menyatukan kaukus mereka di balik dakwaan tertentu.










