Generasi.co, JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan kredit 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun hingga akhir semester I 2026. Ekspansi tersebut tetap diikuti kualitas kredit yang terjaga, dengan rasio non-performing loan (NPL) stabil di level 1,9%.
Pertumbuhan kredit terutama ditopang segmen middle, khususnya enterprise, yang mencapai Rp104,9 triliun. Kredit enterprise melonjak 101,4% secara tahunan dan mendorong pertumbuhan segmen middle hingga 62%.
Di segmen business banking, kredit corporate masih menjadi kontributor terbesar dengan outstanding Rp542,7 triliun atau tumbuh 24,5%. Sementara kredit segmen small atau UMKM tumbuh 4,9% menjadi Rp77,4 triliun.
BNI juga mencatat kredit konsumer tumbuh 9,4%. Pertumbuhan tersebut ditopang penyaluran KPR, kartu kredit, dan pinjaman pribadi.
Perseroan menyalurkan total kredit Rp254,8 triliun sepanjang April-Juni 2026. Manajemen menyatakan ekspansi dilakukan dengan mempertimbangkan prospek industri dan risiko debitur.
“Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri, serta profil risiko masing-masing debitur,” jelas manajemen BBNI dalam siaran resmi, Rabu (5/8).
Dari sisi sumber pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BNI tumbuh 22,3% secara tahunan menjadi Rp1.100 triliun. Dana murah atau CASA meningkat 11,2% menjadi Rp720 triliun dan turut mendukung efisiensi biaya dana.
Cost of fund dana pihak ketiga turun menjadi 2,56% dari 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan dengan 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya,” imbuh manajemen.
Penguatan kinerja bisnis tersebut tercermin pada laba bersih BNI yang tumbuh 6,6% secara tahunan menjadi Rp10,8 triliun.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 14,2% menjadi Rp22,3 triliun. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) juga tumbuh 14,2% menjadi Rp9 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong pendapatan operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun hingga akhir semester I 2026.
“Tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama,” tulis manajemen BBNI.
Sektor infrastruktur masih menjadi penyumbang terbesar kredit outstanding BNI hingga akhir semester I 2026, dengan nilai Rp65,9 triliun.










