Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Jadi 4,6–5,4 Persen Imbas Ketidakpastian Global

Bank Indonesia (Sumber: Wikimedia Commons)
Bank Indonesia (Sumber: Wikimedia Commons)

BI revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 jadi 4,6–5,4%, dipengaruhi realisasi kuartal I dan dinamika global, termasuk tarif AS.

Generasi.co, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengumumkan pembaruan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional untuk tahun 2025. Perkiraan terbaru berada di kisaran 4,6-5,4%, sedikit turun dari estimasi sebelumnya yang berada di level 4,7-5,5%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa revisi ini mempertimbangkan hasil pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 yang tercatat sebesar 4,87% secara tahunan (year-on-year).

“Perkembangan terkini pada triwulan II-2025 yang ditunjukkan oleh sejumlah indikator menunjukkan perlunya terus memperkuat upaya-upaya untuk mendorong berbagai kegiatan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Rabu (21/5/2025).

Penyesuaian proyeksi tersebut juga turut mempertimbangkan ketidakpastian global, termasuk pengaruh kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Di dalam negeri, Perry menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada awal tahun terutama digerakkan oleh konsumsi rumah tangga. Aktivitas konsumsi masyarakat meningkat selama masa libur tahun baru dan Idul Fitri.

Sementara itu, investasi non-bangunan menunjukkan tren positif seiring dengan peningkatan realisasi investasi. Namun, investasi di sektor bangunan masih mengalami perlambatan.

Kinerja ekspor juga berkontribusi terhadap pertumbuhan, ditopang oleh sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan pergudangan, serta pertanian.

Meski pertumbuhan pada kuartal pertama belum optimal, Perry menyampaikan keyakinannya bahwa kondisi ekonomi akan menunjukkan perbaikan di paruh kedua tahun ini.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan membaik pada semester II-2025, didorong peningkatan permintaan domestik termasuk dari kenaikan belanja pemerintah,” jelas Perry.

Bank Indonesia juga menyoroti pentingnya penguatan kebijakan untuk mendorong permintaan dalam negeri dan meningkatkan potensi ekspor. Sinergi antara kebijakan moneter dan makroprudensial akan terus diperkuat.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, BI akan melanjutkan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran yang dikombinasikan dengan dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah.

(BAS/Red)