Menhan Inggris Ingatkan Negaranya Harus Siap Perang dalam 1.000 Hari

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting/IG

Generasi.co, LONDON – Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperingatkan negaranya memiliki sedikit lebih dari 1.000 hari untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan musuh. Ia menilai peningkatan kekuatan militer dan ekonomi perang negara-negara lawan dapat membuat mereka berada dalam posisi menyerang pada 2030.

Dalam opini yang dilansir melalui The Telegraph pada Sabtu (24/10/2026), Streeting mengatakan ancaman terhadap Inggris tidak hanya berasal dari perang konvensional, tetapi juga terorisme yang disponsori negara, sabotase, dan tindakan bermusuhan yang dirancang untuk mengganggu kehidupan masyarakat serta merusak keamanan nasional.

“Bahaya paling serius pada abad ke-20 kembali muncul, kali ini dengan persenjataan teknologi abad ke-21,” tulis Streeting.

Ia menegaskan prioritas utamanya sebagai Menteri Pertahanan adalah memastikan Inggris siap menghadapi dan memenangkan perang. Menurut dia, kesiapan tersebut menjadi ukuran utama keberhasilan kebijakan pertahanan, bukan sekadar pencapaian persentase anggaran atau target berdasarkan tenggat waktu.

“Untuk mencegah kemungkinan terburuk, kita harus mempersiapkannya,” tulis Streeting.

Ia mengatakan Inggris perlu memperluas kemampuan militernya agar negara-negara lawan berpikir dua kali sebelum melancarkan serangan. Jika upaya pencegahan tersebut gagal, Inggris harus tetap memiliki kemampuan untuk menghadapi perang bersama sekutunya.

Streeting menyatakan pemerintah Inggris di bawah Partai Buruh telah menjalankan peningkatan belanja pertahanan berkelanjutan terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Ia juga mengaku yakin Inggris akan memenuhi target belanja pertahanan NATO di bawah kepemimpinan Perdana Menteri dan Menteri Keuangan dari Partai Buruh.

“Belanja menunjukkan komitmen Partai Buruh terhadap pertahanan, tetapi kemampuan menunjukkan kredibilitas Inggris,” tulisnya.

Streeting mengakui pertahanan Inggris masih belum berada pada tingkat yang dibutuhkan. Karena itu, pemerintah perlu terus memperkuat angkatan bersenjata dengan menyediakan sumber daya, personel, serta peralatan yang memadai.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat aliansi, terutama dengan NATO dan Amerika Serikat, serta memulihkan basis industri pertahanan Inggris agar mampu berinovasi dan memproduksi persenjataan lebih cepat daripada negara-negara lawan.

Menurut Streeting, sejumlah indikator di tubuh militer Inggris mulai menunjukkan perbaikan. Ia menyebut jumlah personel yang bergabung dengan militer kini lebih banyak daripada yang meninggalkan dinas, moral prajurit meningkat, dan angkatan bersenjata memperoleh lebih banyak perlengkapan serta peralatan.

Pekan sebelumnya, Streeting mengunjungi pabrik di Telford yang akan kembali memproduksi laras artileri dari baja Inggris di dalam negeri untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Ia juga bertemu dengan para pekerja Inggris yang memproduksi kendaraan lapis baja Boxer. Inggris berencana mengoperasikan 600 kendaraan tersebut melalui investasi senilai 2,2 miliar poundsterling.

Meski demikian, Streeting mengakui pemerintah harus membuat pilihan dalam mengalokasikan anggaran pertahanan. Ia menyatakan akan memprioritaskan kebutuhan, memperbaiki proses pengadaan, serta meningkatkan produktivitas. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk suatu proyek dapat dialihkan ke proyek lain apabila dinilai lebih masuk akal.

Menurut dia, perang di Ukraina menunjukkan bagaimana teknologi dan taktik pertempuran dapat berubah dengan cepat. Perubahan tersebut menuntut militer untuk terus beradaptasi, termasuk dalam memilih teknologi persenjataan dan menentukan prioritas pengadaan.

Streeting mencontohkan sebuah drone seharga 500 poundsterling dapat menghancurkan tank senilai 3 juta poundsterling. Ia juga menyoroti bagaimana persenjataan inovatif dapat dikembangkan dan digunakan dalam hitungan pekan, bukan tahun.

“Di dunia yang berubah begitu cepat, kata-kata paling berbahaya dalam pertahanan saat ini adalah, ‘Kami selalu melakukannya dengan cara ini’,” tulisnya.

Streeting turut menyalahkan pemerintahan Partai Konservatif sebelumnya atas kondisi pertahanan Inggris. Ia mengeklaim pemerintahan tersebut meninggalkan angkatan darat dengan jumlah personel terkecil sejak Perang Napoleon, gagal memenuhi seluruh target perekrutan, dan mengalami kemerosotan moral prajurit.

Ia juga menyebut hampir semua program pengadaan peralatan militer pada periode tersebut mengalami pembengkakan anggaran atau keterlambatan, bahkan sering kali keduanya. Streeting mengutip mantan Menteri Pertahanan Inggris dari Partai Konservatif, Ben Wallace, yang menyebut angkatan bersenjata Inggris telah dibuat “keropos dan kekurangan dana”.

Streeting menegaskan kesediaan negara-negara lawan untuk merugikan Inggris bukanlah hal baru. Menurut dia, perubahan terletak pada kemampuan mereka yang kini semakin besar.

“Peningkatan kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka pada posisi untuk menyerang pada 2030. Itu memberi kita sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: siap bersama sekutu untuk bertempur dan menang,” tulis Streeting.

Ia menegaskan pemerintah Inggris akan memastikan target kesiapan tersebut tercapai.