Sebelum Meninggal Lewat Eutanasia, Perempuan Spanyol Disebut Menulis Nama Terduga Pelaku Pemerkosaan di Diary

Noelia Castillo Ramos/Antena 3

Generasi.co, BARCELONA – Ibu Noelia Castillo Ramos melaporkan dugaan pemerkosaan yang disebut dialami putrinya kepada kantor kejaksaan di Barcelona dan Tarragona, Spanyol. Laporan itu diajukan setelah Yolanda Ramos menemukan catatan pribadi atau diary yang menurutnya berisi identitas serta kronologi dugaan kekerasan seksual terhadap Noelia.

Noelia Castillo Ramos meninggal dunia melalui prosedur eutanasia pada Maret 2026 dalam usia 25 tahun setelah melalui proses hukum panjang terkait haknya untuk menjalani kematian dengan bantuan medis. Setelah kematiannya, sang ibu membawa isi diary tersebut kepada jaksa dengan harapan dugaan tindak pidana yang dialami putrinya dapat kembali diselidiki.

Menurut laporan yang dikutip dari VT, Yolanda menerima diary tersebut pada hari kematian Noelia. Setelah membaca isinya, ia memutuskan mengajukan laporan resmi karena meyakini catatan itu dapat membantu mengungkap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab.

“Dan pada hari yang sama ketika dia meninggal, dia memberi saya diary-nya, dan ketika saya membacanya, saya memahami banyak hal,” kata Yolanda Ramos dalam video yang dirilis bersamaan dengan pengajuan laporan.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa diary Noelia memuat dugaan serangan seksual yang terjadi setelah ia bertemu seorang pelayan di Salou, wilayah Tarragona. Noelia disebut menulis bahwa dirinya diberi obat, diberi alkohol, lalu diperkosa oleh tiga pria.

Dugaan tersebut belum menghasilkan putusan pidana. Hingga kini, tuduhan terhadap pihak yang disebut dalam laporan masih berstatus dugaan dan belum terdapat vonis pengadilan.

Yolanda mengatakan keputusan membawa kasus itu ke kejaksaan dilakukan karena ia merasa harus memperjuangkan apa yang diyakini menjadi keinginan terakhir putrinya.

“Saya memutuskan melaporkan pria-pria yang telah sangat menyakiti putri saya. Saya melakukan ini karena saya merasa itulah yang Noelia inginkan,” ujar Yolanda.

Yolanda juga mengatakan Noelia sebelumnya telah membicarakan pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya kepada publik. Menurutnya, diary tersebut menunjukkan bahwa putrinya ingin kebenaran mengenai pengalaman traumatis yang dialaminya diketahui.

Federasi Pengacara Kristen Spanyol yang mendampingi Yolanda menyatakan sebagian isi diary telah diserahkan kepada kejaksaan. Organisasi tersebut menyebut Noelia menulis catatan itu sebelum meninggal karena tidak ingin pengalaman yang dialaminya berhenti tanpa diketahui.

Kasus Noelia sebelumnya menjadi perhatian luas di Spanyol setelah perdebatan mengenai keputusan eutanasianya. Pengajuan eutanasia Noelia disetujui badan medis di Catalonia pada 2024, tetapi keputusan tersebut sempat digugat oleh ayahnya melalui jalur hukum.

Setelah hampir dua tahun proses hukum, pengadilan memutuskan Noelia dapat melanjutkan prosedur eutanasia sesuai aturan yang berlaku di Spanyol.

Dalam wawancara terakhirnya dengan media Spanyol, Noelia mengatakan keputusan tersebut berkaitan dengan penderitaan panjang yang ia alami.

“Tak satu pun keluarga saya mendukung eutanasia, tentu saja, karena saya adalah bagian penting dari keluarga. Tetapi bagaimana dengan rasa sakit yang saya alami selama bertahun-tahun?” kata Noelia.

Noelia sebelumnya mengungkapkan dirinya mengalami dua kali percobaan bunuh diri. Percobaan kedua pada 2022 terjadi setelah dugaan kekerasan seksual yang membuatnya mengalami cedera tulang belakang hingga mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.

Spanyol mengesahkan aturan mengenai eutanasia dan kematian dengan bantuan medis pada 2021 bagi pasien yang memenuhi persyaratan tertentu. Kasus Noelia kemudian memicu perdebatan mengenai perlindungan terhadap orang dengan trauma berat serta kondisi kesehatan mental dalam pengajuan eutanasia.