Gelar Taklimat di Istana, Presiden Prabowo Diskusi Geopolitik dengan Ribuan Guru Besar

Presiden Prabowo Subianto/KSP

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun perhitungan agar perguruan tinggi di Indonesia dapat meningkatkan kualitasnya tanpa membebankan biaya tinggi kepada mahasiswa.

Hal tersebut menjadi salah satu poin pembahasan utama saat Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sekitar 1.200 rektor dan guru besar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS) dalam agenda “Taklimat Presiden” di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/01).

“Kalau memungkinkan kita sedang coba menghitung bagaimana universitas-universitas ini dapat maju dan berkualitas, dan tidak memberatkan dari sisi pembiayaan bagi masyarakat atau bagi mahasiswa,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan.

Atasi Krisis Dokter

Selain isu pembiayaan, pertemuan ini juga membahas strategi percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga medis. Prasetyo menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) telah memetakan adanya kekurangan dokter yang cukup signifikan.

“Diskusinya ini juga sudah dimulai oleh Kementerian Dikti Saintek, misalnya berkenaan dengan bagaimana kita mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter kita yang berdasarkan data kita masih kekurangan hampir di atas 100 ribuan,” jelasnya.

Diskusi Geopolitik dan Rencana Besar

Prasetyo menjelaskan bahwa pertemuan dengan ribuan akademisi ini merupakan bagian dari agenda komunikasi intensif Presiden. Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan pandangan strategis mengenai kondisi geopolitik global serta rencana besar pembangunan nasional ke depan.

Presiden menekankan bahwa sektor pendidikan adalah fondasi utama pembangunan, berjalan beriringan dengan target swasembada pangan dan energi menuju Indonesia Emas 2045.

“Ini bagian dari agenda Bapak Presiden sebagai Kepala Negara untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan-pandangan beliau, update terhadap kondisi negara kita maupun kondisi geopolitik,” pungkas Prasetyo.