Ibas hadirkan suasana hangat lewat pantun di audiensi Rumah Pintar, serukan pentingnya literasi, cinta, dan pendidikan inklusif untuk generasi Indonesia.
Generasi.co, Jakarta – Suasana audiensi di Gedung MPR RI yang membahas masa depan Rumah Pintar Nasional berubah menjadi akrab dan penuh gelak tawa saat Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyampaikan sambutan dengan pantun-pantun khasnya.
Audiensi bertema ‘Bersinergi Mencerdaskan Negeri: Membangun Generasi Cerdas Bersama Rumah Pintar Nasional’ tersebut menghadirkan para pembina dan pengurus gerakan literasi yang dipelopori oleh mendiang Ani Yudhoyono sejak 2005.
Mengawali sambutannya, Ibas menyambut peserta dengan semangat dan kebangsaan.
“Selamat datang di Rumah Kebangsaan MPR RI, pengawal konstitusi, penjaga kedaulatan rakyat,” kata Ibas dalam keterangan tertulis, Kamis (21/8/2025).
Tak lama, suasana menjadi hangat saat ia membacakan pantun pembuka.
“Langit tak selalu berwarna cerah, namun langkah tak boleh menyerah. Syukur dan terima kasih kami ucapkan,
Semoga bernilai pahala dan berkah,” tuturnya.
Pantun ini disampaikan langsung kepada Ketua P2RPN, Okke Hatta Rajasa, yang juga ibu mertuanya, dan disambut dengan senyum dan tepuk tangan peserta.
Gaya berpantun Ibas bukan tanpa alasan. Ia mengaku terdorong karena kedekatannya dengan budaya keluarga istrinya yang berasal dari Sumatra.
“Memang saya harus belajar juga. Istri saya dari Sumatra, jadi harus bisa berpantun juga,” ungkapnya sembari tersenyum.
Beberapa pantun sarat pesan literasi dan kepedulian pun disampaikan sepanjang acara.
“Pulang ke rumah bawa ikan, ikan segar di meja makan. Inilah sahabat Demokrat, anggota DPR yang penuh kepedulian,” ucapnya.
Ia juga menuturkan pantun apresiasi bagi perempuan.
“Terbang elang di langit biru, melayang tinggi meraih impian. Pia Demokrat hadir di sini, membawa suara wanita bangsawan,” kata Ibas.
Dalam suasana yang lebih personal, Ibas mengingatkan kembali kenangan awal perjalanan Rumah Pintar bersama sang istri, Aliya Rajasa.
“Mobil pintar berhenti di hadapan, anak-anak riang sambut senyuman. Ibas Aliya bertemu di lapangan, membawa cinta, ilmu, dan harapan,” ucap Ibas.
Melalui bait-baitnya, Ibas juga menyisipkan pesan mendalam tentang pentingnya merawat budaya baca dan literasi sebagai landasan pembangunan bangsa.
“Ke rumah nenek membawa peta, singgah sebentar di kolam ikan. Buku bukan cuma untuk dibaca, tapi jendela menuju masa depan,” tuturnya,
“Kalau literasi terus dirawat, maka bangsa ini akan berdiri tinggi,” imbuhnya.
Pantun-pantun yang semula hanya dianggap pelengkap, justru menjadi jembatan emosional dalam menyampaikan nilai, tanpa harus menggurui.
Dalam forum ini, Ketua P2RPN Okke Hatta Rajasa menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi pengelola Rumah Pintar, mulai dari kebutuhan pendampingan hingga masalah operasional.
Pengurus lain yang hadir, termasuk Murniati Widodo, Carolina Kaluku, dan Deden Ariffan, juga mengutarakan harapan agar semangat belajar tetap terjaga di tengah berbagai keterbatasan.
Menutup audiensi, Ibas kembali membacakan pantun penghormatan yang menyentuh.
“Bunga melati harum lembut, tumbuh indah di pagi cerah. Jika ada kata yang tak tepat menyentuh, izinkan kami mohon maaf dengan penuh berkah,” kata Ibas.
“Langkah berakhir di ujung rasa, sukses selalu untuk hari kita semua,” tutupnya.
Pantun-pantun tersebut bukan hanya hiburan, tapi menjadi media yang menyampaikan semangat dan pesan kebangsaan. Dalam ruang konstitusi, bait-bait sederhana itu menyulam harapan untuk masa depan generasi penerus bangsa.










