Sudaryono: Banyak Kasus Keracunan MBG Dipicu Makanan Dimasak Sehari Sebelumnya

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono/Pertanian

Generasi.co, Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap hasil investigasi awal terhadap sejumlah kasus keracunan usai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, salah satu penyebab yang paling banyak ditemukan adalah makanan dimasak terlalu dini, bahkan sejak malam sebelum didistribusikan kepada siswa.

Temuan tersebut disampaikan Sudaryono saat menjawab pertanyaan awak media mengenai kasus keracunan siswa usai menyantap menu MBG di Semarang, Jawa Tengah, dan Papua dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Rabu (5/8/2026).

“Kami melihat beberapa sebab ada yang SOP-nya dia masaknya kecepetan. Kalau di Papua kita lihat sistem dapurnya, kapan persiapan, kapan dimasak itu ada,” kata Sudaryono.

Ia menjelaskan, pada salah satu kasus di Papua, dapur MBG mulai memasak sekitar pukul 19.30 atau 20.30 pada hari sebelumnya, sementara makanan baru dibagikan kepada siswa sekitar pukul 11.00 keesokan harinya. Menurutnya, praktik tersebut merupakan pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP).

“Jadi memang memulai masaknya kecepatan kalau nggak salah setengah 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya di jam 11 siang. Jadi itu sudah melanggar,” ujarnya.

Sudaryono mengatakan pola serupa juga ditemukan pada kasus di Semarang. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dapur mulai memasak sekitar pukul 21.00 pada malam sebelum makanan didistribusikan.

“Termasuk yang di Semarang juga sama, dia mulai masak jam 9 malam. Ini sekarang tinggal bagaimana, ini kan masalah kedisiplinan,” katanya.

Sebelumnya, Sudaryono menegaskan BGN menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan maupun berbagai praktik penyimpangan dalam pelaksanaan Program MBG.

Pernyataan itu disampaikan setelah menjenguk korban dugaan insiden keamanan pangan yang menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026).

“Saya sebagai Kepala BGN yang baru ini, memastikan zero tolerance terhadap keracunan, tindak pidana korupsi, dan hanky-panky (tindakan menyimpang dan tidak jujur), titip-menitip duit, itu enggak boleh lagi,” ujar Sudaryono dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.

Ia menegaskan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mematuhi SOP secara ketat untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Menurutnya, kepatuhan terhadap prosedur dan sistem pengelolaan dapur menjadi kunci menjaga keamanan makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat.

Sudaryono juga menekankan kepala SPPG bertanggung jawab memastikan seluruh prosedur dijalankan secara disiplin, termasuk menindak petugas yang mengabaikan aturan kebersihan dan keamanan pangan, seperti tidak mencuci tangan, tidak menggunakan sarung tangan, atau tidak mengenakan masker saat mengolah makanan.