Generasi.co, Kupang – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu provinsi yang mendapat perhatian dalam pengembangan dapur baru Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sudaryono mengatakan pembukaan dapur baru akan diprioritaskan di wilayah dengan angka stunting tinggi dan masih minim fasilitas penyedia makanan bergizi. NTT termasuk daerah yang akan menjadi lokasi dapur perintis.
“Saya memahami Pak Gubernur NTT, stunting juga cukup tinggi di NTT. Saya berjanji NTT akan menjadi salah satu provinsi untuk kemudian kita buka dapur baru,” kata Sudaryono saat menghadiri Pelantikan DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi NTT periode 2026-2031 di Aula Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, Rabu (16/9/2026).
Menurut Sudaryono, BGN tengah mempersiapkan pembukaan dapur perintis di sejumlah daerah dengan angka stunting tinggi.
“Kami juga sedang mempersiapkan untuk membuka dapur di tempat-tempat yang angka stunting-nya tinggi menjadi perintis, khususnya di NTT,” ujarnya.
Selain menambah dapur, pemerintah juga membenahi tata kelola dapur MBG yang telah beroperasi. Pembenahan dilakukan untuk meminimalkan makanan rusak sebelum dikonsumsi serta mencegah persoalan keamanan pangan.
Sudaryono menyebut sekitar 27.000 dapur MBG saat ini telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian dapur tersebut masih akan ditata dari sisi tata kelola dan proses penyediaan makanan.
Persebaran dapur MBG juga belum merata. Hampir 60 persen dapur yang beroperasi berada di wilayah Jawa dan Sumatera.
Karena itu, pengembangan dapur MBG di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk NTT, menjadi salah satu hal yang akan diperkuat. Sudaryono berharap pemerintah daerah di NTT mendukung rencana tersebut agar layanan MBG dapat menjangkau wilayah yang selama ini belum memiliki fasilitas penyedia makanan bergizi.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono yang juga Ketua Umum HKTI Nasional meminta pemerintah daerah memperkuat kerja sama dengan pemerintah pusat, termasuk dalam pengembangan sektor pertanian.
Ia mengatakan keterlibatannya dalam sektor pertanian tetap berlanjut meskipun kini menjabat sebagai Kepala BGN.
“Saya lumayan, walaupun jadi Kepala BGN masih bisa ngurus pertanian. Jadi jangan mentang-mentang saya enggak ada di situ, Bapak dan Ibu enggak pernah berusaha lagi. Harus sering-sering,” katanya.










