Presiden Prabowo Subianto sukses merangkul dukungan dari 16 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terkait keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kesepakatan ini tercapai usai Presiden menggelar pertemuan tertutup selama empat jam dengan para pimpinan ormas Islam, tokoh agama, dan pimpinan pondok pesantren di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/2).
Suasana pertemuan dilaporkan berlangsung hangat. Para ulama yang hadir akhirnya memahami alasan strategis pemerintah setelah mendengarkan penjelasan langsung dari Kepala Negara.
Fokus Bela Palestina dan Pasukan Perdamaian
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengungkapkan bahwa Presiden menjelaskan secara gamblang bahwa motivasi utama bergabung dengan organisasi tersebut adalah untuk membela kemerdekaan rakyat Palestina.
Menurut Gus Yahya, forum tersebut menjadi wadah konsolidasi negara-negara anggota untuk aksi nyata. Salah satu rencana konkret yang disampaikan Prabowo adalah pengiriman pasukan perdamaian.
“Presiden sudah memberi penjelasan tadi, kita nanti akan berpartisipasi dengan mengirimkan pasukan perdamaian yang tugas absolutnya adalah melindungi rakyat Palestina,” ujar Gus Yahya usai pertemuan.
Ia menambahkan, langkah-langkah di dalam dewan tersebut akan terkonsolidasi dengan negara lain yang memiliki satu tujuan: membantu Palestina.
Muhammadiyah: Semua Ormas Kini Mendukung
Senada, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa pertemuan berlangsung sangat kondusif. Ia mengakui, sebelumnya sempat ada perbedaan pendapat atau polemik karena informasi yang diterima para tokoh agama belum utuh.
Namun, setelah Presiden memaparkan situasi global, kondisi Palestina terkini, serta komitmen Indonesia, seluruh ormas sepakat memberikan dukungan penuh.
“Setelah Pak Presiden menyampaikan secara utuh… Alhamdulillah semua ormas Islam sangat mendukung langkah politik pemerintah Indonesia untuk terlibat dalam BoP,” tutur Mu’ti yang juga menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
MUI dan Menlu: Siap Keluar Jika Tak Bermanfaat
Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang sebelumnya sempat menyuarakan agar pemerintah menarik diri, kini menyatakan dukungannya dengan catatan khusus.
Ketua MUI, Anwar Iskandar, menegaskan bahwa dukungan diberikan selama keikutsertaan Indonesia membawa kemaslahatan bagi umat dan kemanusiaan. Namun, jika forum tersebut gagal menciptakan perdamaian, Indonesia tidak segan untuk angkat kaki.
“Apabila di kemudian hari ternyata tidak memberi kemaslahatan dan kebaikan organisasi ini kepada Palestina, kepada perdamaian dunia, maka seluruh negara-negara Islam yang berkumpul di situ akan keluar dari BoP,” tegas Anwar.
Hal ini dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri, Sugiono. Ia membuka peluang bagi Indonesia untuk keluar dari Board of Peace jika kebijakan organisasi tersebut melenceng dari prinsip Indonesia, yakni perdamaian di Gaza dan kedaulatan Palestina.
“Ya kalau memang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan… situasi damai di Gaza dan akhirnya nanti adalah kemerdekaan dan kedaulatan Palestina,” pungkas Sugiono.
Sebagai informasi, pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari 16 ormas Islam, antara lain PBNU, Muhammadiyah, MUI, Syarikat Islam, Persatuan Islam (PERSIS), PP Muslimat NU, Wahdah Islamiyah, hingga Persatuan Ummat Islam (PUI).










