Asap Karhutla Kepung Kalimantan, Penerbangan Terganggu

Karhutla/Pemkab Banjar

Generasi.co, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai mengganggu sektor transportasi udara. Kabut asap yang menurunkan jarak pandang menyebabkan pembatalan penerbangan, salah satunya di Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengakui kondisi asap di sejumlah wilayah Kalimantan telah cukup mengganggu operasional penerbangan. Pembatalan penerbangan juga masih berpotensi berlanjut karena kondisi cuaca dan jarak pandang.

“Untuk Kalimantan memang tadi seperti di Kalimantan Barat, ada pembatalan penerbangan karena asap di sana sudah cukup mengganggu jarak pandang,” ujar Dudy seusai rapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta Pusat, 10 Agustus 2026.

Dudy belum merinci seluruh bandara di Kalimantan dan Sumatra yang terdampak. Namun, ia memastikan Bandara Supadio menjadi salah satu titik yang mengalami kondisi paling parah.

Dudy meminta maskapai memperhatikan perkembangan cuaca dan terus memantau informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut dia, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi kondisi jarak pandang akibat asap.

“Nanti saya mesti update lagi untuk titik-titiknya,” kata Dudy.

Kondisi karhutla diperburuk minimnya potensi pertumbuhan awan hujan. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan empat provinsi menjadi prioritas berdasarkan analisis titik panas pada 19 Agustus, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Papua Selatan.

Kalimantan Barat tercatat memiliki jumlah titik panas terbanyak di antara wilayah yang menjadi prioritas tersebut.

BMKG juga memprediksi potensi pertumbuhan awan hujan sangat minim di sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepuluh hari ke depan. Kondisi kering diperkirakan terjadi terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, hingga Papua.

Faisal mengatakan musim hujan diperkirakan baru mulai datang pada pertengahan Oktober.

“Kalau dari prediksi BMKG diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang Pak, pertengahan Oktober,” tutur Faisal.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan. Operasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu penanganan kebakaran hutan di Riau, tetapi juga mengisi waduk yang mulai mengalami kekeringan, termasuk Waduk Sepaku Semoi di kawasan IKN dan sejumlah waduk di Jawa Barat.

Dampak karhutla juga telah meluas hingga ke luar Indonesia. Kabut asap dari Kalimantan merembes ke Sarawak, Malaysia, dan menyebabkan memburuknya kualitas udara di enam wilayah.

Di tengah kondisi tersebut, relawan masih melakukan pemadaman di sejumlah wilayah pedalaman Kalimantan. Keterbatasan kondisi fisik menjadi salah satu tantangan dalam menghadapi kobaran api.

“Susah, Bos. Napas saya ngos-ngosan. Tiap lima menit harus berhenti dulu, baru lanjut lagi,” ujar Deni, seorang relawan, seperti dikutip AFP.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga terbang ke Palangkaraya untuk memastikan teknologi hujan buatan tetap disiagakan. Penyemaian awan dilakukan ketika terdapat awan potensial dan kondisi teknis memungkinkan.

Namun, pelaksanaan hujan buatan bergantung pada keberadaan awan. Kondisi El Nino yang membuat udara kering menjadi tantangan dalam pelaksanaan operasi tersebut.

David Gaveau, pendiri situs pemantau deforestasi Nusantara Atlas, menilai skala kebakaran saat ini berkaitan dengan deforestasi selama empat dekade.

“Kita sendiri yang mengubah lanskap luas hutan menjadi ladang jerami raksasa yang siap meledak,” kata David, seperti dikutip AFP.

Menurut David, hujan menjadi faktor yang dapat menghentikan kebakaran, sementara berdasarkan prediksi yang disampaikan BMKG, musim hujan baru diperkirakan datang paling cepat pada pertengahan Oktober.