Presiden Prabowo Subianto mengaku sedih saat memutuskan mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung. Namun, Prabowo menegaskan tetap mengambil keputusan tersebut setelah menerima laporan mengenai dugaan kejanggalan dan penyelewengan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketiga mantan pimpinan BGN itu kini telah ditahan Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG.
“Saya juga sebetulnya hari ini, saat ini, sebetulnya saya sedih. Saya tidak bisa tutupi bahwa saya dalam keadaan sedih. Karena saya terpaksa mengganti orang-orang yang sebenarnya saya sayangi, orang yang saya percaya, orang yang saya berikan tugas untuk negara, yang sangat berat,” kata Prabowo saat berbicara di hadapan sekitar 12.000 penggerak dan mitra Program MBG di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026).
Meski demikian, Prabowo memilih tidak banyak mengomentari kasus yang menjerat Dadan, Sony, dan Lodewyk karena proses hukum masih berlangsung.
Menurut dia, keputusan mengganti pimpinan BGN bukan perkara mudah. Namun, ia mengaku berpegang pada pesan ayahnya, almarhum Profesor Sumitro Djojohadikusumo, agar selalu berpihak kepada rakyat ketika menghadapi situasi sulit.
“Tapi yang jelas, mengganti mereka itu tidak ringan bagi saya. Tapi saya ingat kata-kata almarhum ayahanda saya, Profesor Sumitro, pernah mengatakan kepada saya, ‘Prabowo, kalau satu saat kau dalam keadaan bingung atau keadaan ragu-ragu, ingat, berpihaklah selalu kepada rakyatmu’,” ujarnya.
Prabowo mengungkapkan bahwa sebelum pergantian pimpinan dilakukan, dirinya telah menerima laporan mengenai berbagai kekurangan, kejanggalan, hingga indikasi penyelewengan dalam pelaksanaan program MBG.
Ia menilai kualitas kepemimpinan sangat menentukan arah sebuah organisasi.
“Apalagi pemimpin tidak benar, tidak kompeten, atau tidak jujur,” kata Prabowo.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Prabowo mengaku langsung memanggil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) M Yusuf Ateh, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana, serta sejumlah pejabat lainnya.
“Saya tanya, ‘tolong saya mendapat laporan tentang BGN. BGN ini suatu program yang sangat-sangat penting bagi bangsa dan negara, menyangkut rakyat kita yang sedang perlu bantuan afirmasi, bantuan berpihak’,” ujar Prabowo.
Menurut dia, Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis yang dapat mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus menggerakkan perekonomian nasional jika dijalankan dengan baik.
“Jadi program ini adalah sangat penting. Dan program ini kalau berhasil akan menimbulkan suatu kemajuan yang sangat besar untuk ekonomi kita,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo mengganti seluruh pucuk pimpinan BGN. Dadan Hindayana dicopot dari jabatan Kepala BGN bersama dua wakil kepala, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Sebagai penggantinya, Prabowo menunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN. Nanik didampingi Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai Wakil Kepala BGN.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pergantian tersebut dilakukan setelah Presiden melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja BGN selama hampir 1,5 tahun.
“Selama kurang lebih hampir 1,5 tahun melakukan monitoring, melakukan evaluasi, maka pada hari ini, Selasa tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional,” kata Prasetyo.










