NGAWI, 30 OKTOBER 2026 – Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak para santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor untuk berani memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga akhlak, serta mengambil peran nyata dalam membangun masa depan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Edhie Baskoro saat memberikan kuliah umum bertajuk “Tantangan Global Kepemimpinan Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045” di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1, Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat (30/10). Kegiatan ini diikuti lebih dari 2.000 santriwati yang mengikuti pemaparan dengan antusias. Momentum tersebut menjadi istimewa seiring perjalanan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mengembangkan pendidikan, membentuk karakter, serta mencetak generasi penerus bangsa.
Sebelum memberikan kuliah umum, Ibas terlebih dahulu bersilaturahmi dengan jajaran pimpinan dan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sekaligus membahas peran pendidikan pesantren dalam membentuk karakter dan menyiapkan generasi penerus bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor, para pimpinan pondok, pimpinan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, para kiai, ustaz, ustazah, serta seluruh tenaga pendidik yang telah mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan.
Ibas juga mengajak seluruh hadirin untuk mengenang jasa para pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Menurutnya, cita-cita besar para pendiri dalam membangun pendidikan yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan pengabdian harus terus dilanjutkan oleh generasi penerus.
“Seratus tahun Gontor bukan hanya tentang perjalanan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan, ilmu, akhlak, dan pengabdian terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Kita berharap Gontor terus melahirkan generasi yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar EBY.
Santriwati Harus Berani Bermimpi Besar
Dalam kuliah umum yang dihadiri sekitar 2.000 santriwati tersebut, Ibas mengangkat satu pertanyaan reflektif mengenai masa depan Indonesia ketika merayakan satu abad kemerdekaan pada 2045.
Ia mengajak para santriwati membayangkan Indonesia yang maju, masyarakatnya sejahtera, ilmu pengetahuannya berkembang, persatuannya semakin kuat, serta nilai-nilai agama dan kebangsaan tetap terjaga.
Menurut EBY, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh para pemimpin saat ini, tetapi juga oleh generasi muda yang sedang menempuh pendidikan dan membangun karakter.
“Ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya pada 2045, Indonesia seperti apa yang ingin kita lihat? Masa depan bangsa ini juga akan ditentukan oleh kalian, generasi muda yang hari ini sedang belajar, menuntut ilmu, dan membangun karakter di pesantren,” ungkapnya.
Edhie Baskoro secara khusus mendorong para santriwati agar tidak membatasi cita-cita hanya karena identitas dan latar belakang pendidikan pesantren. Sebaliknya, pendidikan pesantren harus menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Ia menyebutkan bahwa santriwati memiliki kesempatan untuk menjadi ilmuwan, dokter, pendidik, guru, diplomat, pengusaha, ahli teknologi, hingga politikus dan anggota parlemen.
“Menjadi santriwati bukan berarti mempersempit cita-cita. Justru pendidikan dan nilai-nilai pesantren dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh. Kalian boleh bermimpi menjadi apa pun, selama cita-cita itu membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, umat, dan negara,” tegas EBY.
Pesan tersebut mendapat perhatian dan antusiasme para santriwati yang hadir. Dengan beragam minat dan cita-cita yang dimiliki, para peserta diajak untuk melihat bahwa menjadi santriwati bukanlah batasan dalam menentukan masa depan. Justru, pendidikan, kedisiplinan, dan nilai-nilai yang diperoleh di pesantren menjadi bekal untuk mengambil peran lebih luas, termasuk menjadi pemimpin yang amanah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada orang-orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana pesan dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11.
Hadapi Era Artificial Intelligence, Iman dan Akhlak Harus Menjadi Kompas
Memasuki era perkembangan teknologi yang semakin cepat, Ibas mengingatkan bahwa generasi muda harus mampu beradaptasi dengan kemajuan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Menurutnya, teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkarya, dan berinteraksi. Perkembangan informasi yang begitu cepat juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam membedakan fakta dan berita bohong, serta informasi yang benar dan keliru.
Karena itu, Edhie Baskoro mengajak para santriwati untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
“Kita hidup di dunia yang berubah sangat cepat. Teknologi dan kecerdasan buatan terus berkembang dan memengaruhi kehidupan kita. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau kita mampu menjadi pencipta gagasan dan menghadirkan solusi?” kata EBY.
Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman dan akhlak.
“Zaman boleh terus berubah, teknologi boleh semakin maju, tetapi iman dan akhlak harus tetap menjadi kompas kehidupan kita. Jangan sampai kecerdasan membuat kita kehilangan kerendahan hati, kejujuran, dan amanah,” pesannya.
Ibas menilai pendidikan pesantren memiliki peran penting dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan masa depan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, terbatasnya lapangan pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, menguasai bahasa, memahami teknologi, menghargai perbedaan, serta terus mengembangkan keterampilan dan kreativitas.
Ilmu, Akhlak, dan Karya Nyata Menjadi Tiga Kunci Generasi Unggul
Dalam pemaparannya, EBY menekankan setidaknya tiga hal penting yang harus dipersiapkan para santriwati untuk menghadapi masa depan, yakni ilmu, akhlak, dan karya nyata.
Pertama, ilmu. Edhie Baskoro mendorong para santriwati untuk terus belajar dan tidak cepat berpuas diri. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai, kelulusan, maupun ijazah, tetapi harus mampu membangun pola pikir kritis dan kemampuan menyelesaikan persoalan.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, serta kemampuan memahami perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Kedua, akhlak. Menurut EBY, kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan karakter dan perilaku yang baik. Kejujuran, kedisiplinan, amanah, kerendahan hati, penghormatan kepada guru, serta kepedulian terhadap sesama merupakan nilai-nilai yang harus terus dijaga.
Ketiga, karya nyata. Ibas mengajak para santriwati untuk tidak sekadar memiliki gagasan dan cita-cita, tetapi juga mulai mewujudkannya melalui tindakan konkret, bahkan dari lingkungan terdekat.
“Ilmu dan akhlak harus menghasilkan manfaat. Mulailah dari hal-hal kecil. Bantu teman untuk belajar, bantu lingkungan kampus menjadi lebih baik, ciptakan gagasan baru, jaga kebersihan, dan lakukan kegiatan sosial. Jangan menunggu menjadi pejabat atau sarjana untuk memberikan manfaat. Mulailah dari sekarang,” jelasnya.
Menurut EBY, ketiga hal tersebut merupakan fondasi penting untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia yang unggul, tangguh, berintegritas, dan mampu menghadapi persaingan global.
Pesantren, Pancasila, dan Masa Depan Kebangsaan
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua MPR RI, EBY turut menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan persatuan Indonesia dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia mengingatkan bahwa nasionalisme bukan sekadar mengibarkan bendera Merah Putih atau mengucapkan kata cinta tanah air, melainkan kesediaan untuk bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
“Nasionalisme adalah kesediaan untuk bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Belajar sungguh-sungguh, menjaga kejujuran, menghormati perbedaan, dan bekerja untuk kepentingan bersama juga merupakan bagian dari pengabdian kepada Indonesia,” tuturnya.
EBY mengajak para santriwati untuk menjadi generasi yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman, menghormati perbedaan, serta berkontribusi bagi kehidupan masyarakat yang adil, demokratis, dan sejahtera.
Ia juga menyampaikan harapan agar dunia terhindar dari pertikaian dan konflik. Secara khusus, EBY mengajak seluruh hadirin mendoakan rakyat Palestina agar memperoleh kemerdekaan, perdamaian, dan keselamatan.
Gontor Terus Melahirkan Generasi yang Bermanfaat bagi Umat dan Bangsa
Menutup kuliah umumnya, EBY menitipkan tiga pertanyaan kepada para santriwati untuk menjadi bahan refleksi setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Pertama, ilmu apa yang akan terus ditingkatkan? Kedua, akhlak apa yang akan terus diperbaiki? Ketiga, karya apa yang akan mulai dilakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain?
EBY berharap Pondok Modern Darussalam Gontor terus menjadi bagian penting dalam melahirkan generasi penerus bangsa yang kuat keimanannya, luas wawasan dan pergaulannya, unggul ilmunya, luhur akhlaknya, serta nyata pengabdiannya.
“Indonesia membutuhkan generasi yang kuat imannya, luas pergaulan dan wawasannya, unggul ilmunya, luhur akhlaknya, dan nyata pengabdiannya. Itulah generasi yang kita butuhkan untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Ia juga mengajak para santriwati untuk menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif, termasuk narkoba, perjudian, pergaulan bebas, dan perkelahian, serta senantiasa menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan.
EBY menyampaikan terima kasih kepada seluruh pimpinan pondok, kiai, ustaz, ustazah, dan para pendidik yang telah menjalankan pengabdian dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda Indonesia.
“Jadilah santriwati yang imannya mengakar, ilmunya terus menerangi, akhlaknya terjaga, dan karyanya memberikan manfaat bagi Indonesia dan dunia. Mari kita siapkan masa depan bukan hanya dengan harapan dan mimpi, tetapi juga dengan ilmu, integritas, dan kerja nyata,” pungkas EBY.
Sementara itu, Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 1, Al-Ustadz Mujib Abdurrahman, Lc., M.Ag., menyampaikan rasa hormat dan apresiasi atas kehadiran EBY di tengah keluarga besar Gontor. Ia menyebut keluarga Yudhoyono memiliki kedekatan historis dengan dunia pesantren. Ayah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono merupakan alumni pondok yang didirikan KH Hasyim Muzaddab, sementara ibunda SBY merupakan alumni Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur.
“Kami sangat bangga dan bersyukur atas kehadiran beliau di Pondok Modern Darussalam Gontor. Keluarga besar Bapak SBY memiliki hubungan yang dekat dengan dunia pesantren. Kehadiran Mas Ibas tentu menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi kami,” ungkap Ustaz Mujib.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Al-Ustaz Mujib Abdurrahman, Lc., M.Ag., selaku Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 1, dan Al-Ustaz H. Arif Irfanuddin, Lc., M.Pd., selaku Wakil Direktur Kulliyyatu-l-Mu’allimat Al-Islamiyyah (KMI) Gontor Putri Kampus 1, bersama jajaran pimpinan, pengasuh, tenaga pendidik, serta sekitar 2.000 santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1.










