Generasi.co, Jakarta – Menteri Koperasi Republik Indonesia (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih akan diarahkan menjadi off taker atau penyerap utama hasil produksi UMKM dan pelaku usaha lokal. Koperasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat.
Menurut Ferry, produk UMKM dan merek lokal harus mendapat ruang utama dalam kegiatan ekonomi Kopdes Merah Putih agar manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat desa.
“Pemerintah ingin koperasi desa menjadi tempat yang memprioritaskan produk-produk masyarakat desa. Produk UMKM lokal, merek-merek lokal, harus mendapatkan ruang utama sehingga manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat desa,” kata Ferry dalam podcast Gedung Belakang yang akan ditayangkan melalui kanal YouTube Indonesia.go.id, Senin (3/8/2026).
Ferry mengatakan Kopdes Merah Putih diharapkan membentuk ekosistem ekonomi produktif dengan menyerap hasil pertanian, perikanan, peternakan, dan produk UMKM lokal. Dengan begitu, masyarakat desa memperoleh kepastian pasar untuk hasil produksinya.
Ia menilai konsep tersebut berbeda secara filosofis dengan jaringan ritel komersial. Meskipun sama-sama menjalankan kegiatan perdagangan, keuntungan Kopdes Merah Putih akan kembali kepada anggota dan masyarakat desa melalui mekanisme koperasi.
“Kalau koperasi desa melakukan kegiatan ritel, keuntungan yang diperoleh akan kembali kepada masyarakat desa sebagai anggota koperasi. Itulah semangat ekonomi gotong royong yang ingin dibangun,” ujarnya.
Ferry mengatakan penguatan Kopdes Merah Putih juga ditujukan untuk mengubah pola pembangunan desa yang selama ini dinilai lebih banyak bergantung pada bantuan sosial. Menurut dia, masyarakat desa harus didorong menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dengan badan usaha dan potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan.
“Selama ini desa terlalu bergantung pada bantuan. Padahal masyarakat desa harus menjadi pelaku ekonomi yang mandiri, memiliki badan usaha sendiri, dan mampu menggerakkan potensi ekonomi lokal,” kata Ferry.
Pembangunan Kopdes Merah Putih, lanjut dia, menjadi salah satu instrumen untuk mendistribusikan akses permodalan, memperkuat kelembagaan ekonomi desa, dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Ferry juga menyoroti urbanisasi yang membuat banyak generasi muda meninggalkan desa karena minimnya peluang ekonomi. Ia khawatir kondisi tersebut membuat desa kehilangan aktivitas ekonomi dan penduduk usia produktif.
“Kalau desa tidak segera diperkuat, anak-anak muda akan terus pindah ke kota. Kita tidak ingin desa menjadi kosong karena tidak ada aktivitas ekonomi yang mampu memberikan penghidupan yang layak,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong Kopdes Merah Putih menjadi motor pertumbuhan ekonomi desa sehingga masyarakat memiliki kesempatan bekerja dan berusaha tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
Ferry menyebut penguatan ekonomi desa juga menjadi salah satu pelajaran dari negara-negara yang berhasil menekan kemiskinan melalui pembangunan pedesaan. Ia mencontohkan China yang menurutnya mempercepat pengentasan kemiskinan melalui reformasi ekonomi berbasis desa dan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.
“Ketika desa menjadi kuat, ekonomi nasional juga menjadi kuat. Karena itu kita ingin membangun fondasi ekonomi Indonesia dimulai dari desa,” katanya.
Menurut Ferry, gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran para pendiri bangsa yang menempatkan desa sebagai pusat pembangunan demokratis dan ekonomi kerakyatan. Melalui Kopdes Merah Putih, pemerintah berharap desa tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek utama pertumbuhan ekonomi nasional.










