Jakarta – Pemerintah mengerahkan 40 armada udara untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan. Armada tersebut digunakan untuk patroli, pemadaman melalui water bombing, serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Pemerintah all out tangani karhutla. Kementerian Kehutanan terus memperkuat sinergi dengan BNPB dan BMKG dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan, salah satunya melalui kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca,” kata Raja Juli dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (18/8/2026).
Dari 40 armada tersebut, 10 merupakan pesawat patroli, 27 helikopter water bombing, dan tiga pesawat untuk pelaksanaan OMC. Sebanyak 36 armada ditempatkan di enam provinsi prioritas, terdiri atas 12 armada patroli udara, 21 helikopter water bombing, dan tiga pesawat OMC.
Pesawat patroli digunakan untuk memantau wilayah rawan, sedangkan helikopter water bombing disiapkan untuk mendukung pemadaman kebakaran dari udara. Sementara itu, armada OMC digunakan sebagai bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi ancaman karhutla.
Raja Juli menegaskan penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas sektor karena dampaknya dapat meluas terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Kami menyadari bahwa karhutla merupakan persoalan serius yang memerlukan penanganan secara kolaboratif, terpadu, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah juga telah menggelar rapat koordinasi khusus bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait di Manggala Wanabakti untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla.










