PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan akan tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian (prudent) dalam menyalurkan kredit ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika ekonomi nasional yang masih menantang bagi pelaku usaha kecil.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa disiplin manajemen risiko menjadi kunci utama perseroan dalam menjaga kualitas portofolio kredit di tengah ketidakpastian pasar.
“BCA senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di berbagai sektor, termasuk UMKM, dengan penyaluran kredit berkualitas yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko,” ujar Hera, Selasa (13/01).
Seleksi Debitur Diperketat
Hera menjelaskan bahwa setiap segmen usaha memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Oleh karena itu, BCA menerapkan proses seleksi debitur yang ketat sesuai regulasi, dibarengi dengan pemantauan (monitoring) berkala terhadap kinerja bisnis nasabah.
Strategi ini bertujuan menekan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) agar tetap berada di level aman.
“Kami menerapkan pendekatan adaptif dan terukur, termasuk asesmen yang disesuaikan dengan kapasitas masing-masing debitur UMKM,” tambahnya.
Hingga November 2025, total penyaluran kredit BCA secara bank only tercatat mencapai Rp921 triliun. Perseroan optimistis target pertumbuhan kredit dapat tercapai hingga tutup buku tahun 2025.
Kontraksi Kredit UMKM Nasional
Sikap hati-hati BCA ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyoroti beratnya tantangan di sektor UMKM.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK mencatat bahwa per November 2025, total penyaluran kredit perbankan nasional tumbuh 7,74 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp8.315 triliun.
Pertumbuhan tersebut didominasi oleh kredit investasi (17,98 persen) dan kredit korporasi (12 persen). Sebaliknya, segmen UMKM justru sedang tidak baik-baik saja.
“Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berat yang dalam pengertian masih terkontraksi,” ungkap OJK.
Kualitas kredit perbankan secara umum masih terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,21 persen dan NPL net 0,86 persen per November 2025.










