Lestari Moerdijat: Peningkatan Pemahaman Para Pendidik Kunci Keberhasilan Penerapan Deep Learning

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendorong peningkatan pemahaman deep learning bagi pendidik guna mendukung transformasi pendidikan nasional/MPR RI

Jakarta, Generasi.co — Keberhasilan implementasi metode Pembelajaran Mendalam atau deep learning yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusianya. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa pemahaman para pendidik hingga pemangku kebijakan di tingkat akar rumput mutlak harus ditingkatkan secara merata.

Pernyataan tersebut disampaikan Lestari dalam keterangan tertulisnya pada Senin (4/5/2026), merespons program prioritas pendidikan nasional saat ini.

Menurut politisi yang akrab disapa Rerie tersebut, transformasi metode pengajaran di sekolah tidak akan berjalan efektif jika sekadar mengandalkan instruksi dari pusat. Dibutuhkan strategi yang sistematis untuk benar-benar mengubah paradigma mengajar di dalam kelas.

“Pemahaman semua pihak terkait atas proses deep learning harus terus ditingkatkan, sehingga sistem pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan dalam setiap proses pendidikan,” tegas Rerie.

Ia juga menyoroti bahwa tenaga pengajar di era modern harus mampu beradaptasi. Pendidik dituntut untuk memahami konsep deep learning agar cara mengajarnya lebih relevan dan meninggalkan metode-metode konvensional yang monoton.

Fokus Kemendikdasmen dan Skema Penerapan Bertahap

Dorongan penerapan deep learning ini sebelumnya ditegaskan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, saat memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (2/5/2026).

Secara konsep, deep learning adalah pendekatan yang berfokus pada pemahaman materi secara intensif, menyusutkan volume kurikulum namun menggali lebih dalam dengan pendekatan bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menyenangkan (joyful).

Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Rerie mendukung penuh skema pemerintah yang merancang penerapan metode ini secara bertahap, dengan langkah-langkah strategis berikut:

  • Pelatihan Tingkat Nasional: Mencetak pelatih inti (master trainer) di tingkat pusat.
  • Diseminasi Praktik Baik: Penularan pengetahuan dan keterampilan dari sekolah atau guru penggerak kepada satuan pendidikan dan rekan sejawat di daerah.
  • Penerapan Bertahap: Implementasi resmi metode deep learning di sekolah-sekolah yang ditunjuk setelah kapasitas pengajar dinilai mumpuni.

Syarat Lingkungan Sekolah yang Kondusif

Lebih jauh, Rerie menekankan bahwa kesiapan teknis pedagogik guru saja tidak cukup. Program deep learning wajib ditunjang oleh ekosistem dan budaya sekolah yang kondusif.

Terkait hal ini, Kemendikdasmen diketahui telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Rerie menilai regulasi ini merupakan pondasi krusial yang harus disosialisasikan secara masif agar tidak sekadar menjadi dokumen administratif.

“Kombinasi antara pelatihan guru, sistem penerapan bertahap, dan lingkungan sekolah yang aman akan membuat penerapan metode deep learning bukan sekadar wacana, melainkan benar-benar menjadi fondasi pengembangan potensi utuh peserta didik di Indonesia,” pungkas Rerie.