Generasi.co, Sidoarjo – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta maaf atas insiden keracunan massal setelah ratusan siswa dan santri mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia menyebut insiden tersebut diduga terjadi akibat kelalaian yang disengaja oleh petugas satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
“Saya juga menyampaikan di tempat ini, keracunan makanan yang terjadi di Sidoarjo kemarin, permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo, di pondok pesantren yang sampai saat ini datanya terekap di tempat kami,” ujar Sudaryono saat memberikan pengarahan kepada jajaran BGN, seperti dalam video yang diunggah di Instagram resminya, Kamis (3/9/2026).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mencatat total korban keracunan MBG mencapai 664 orang. Sebanyak 77 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, sedangkan 581 korban telah diperbolehkan pulang dan enam lainnya masih menjalani observasi.
Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan kondisi umum korban yang masih dirawat stabil.
“Total 664 pasien, MRS 77 pasien, KRS 581 pasien, observasi 6 pasien. Secara umum (kondisi pasien yang masih menjalani perawatan) stabil,” ujar Lakhsmie.
Sudaryono mengatakan BGN masih memantau jumlah korban dan meminta jajarannya terus mendata siswa yang telah mengonsumsi MBG dari SPPG Kalitengah.
Berdasarkan penelusuran sementara BGN, ahli gizi dan kepala dapur SPPG diduga tidak memberikan label pada seluruh ompreng atau wadah makanan. Label hanya ditempel pada satu ompreng untuk setiap penanggung jawab (PIC), meski makanan dikirim dalam jumlah ratusan porsi.
“Kasus keracunan di Sidoarjo, kita sudah cek kronologis, sudah cek juga di Radar MBG, bahwa ternyata ahli gizi dan kepala dapur itu kemudian tidak melabeli semua omprengnya, hanya dikasih label satu untuk satu PIC. Jadi dia ngirim, misalnya 400 itu labelnya satu,” kata Sudaryono.
Menurut Sudaryono, setiap ompreng seharusnya diberi label yang mencantumkan waktu makanan dimasak dan batas maksimal makanan tersebut dikonsumsi.
Ia menyebut makanan dalam kasus Sidoarjo dimasak sekitar pukul 05.00. Dengan ketentuan tersebut, makanan seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00. Namun, label yang dibuat mencantumkan waktu pelaporan pukul 08.00 dengan batas konsumsi maksimal pukul 10.00.
“Penelusuran sementara, itu makanan matang jam 5, makanya harus dikonsumsi sebelum jam 9, namun di labeling itu ditulis, dilaporkan jam 8.00 dan dimakan maksimal jam 10 di labelnya, dan labelnya itu tidak semua ompreng. Hanya satu ompreng kemudian difoto, dimasukkan ke dalam POP, kemudian di-capture oleh Radar MBG,” ucap dia.
Persoalan lainnya, kata Sudaryono, berkaitan dengan waktu pengiriman dan konsumsi makanan. Ia menyebut makanan yang seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 10.00 justru dikirim ke sekolah setelah pukul 11.00 dan baru disantap siswa setelah pukul 12.00.
“Yang menjadi kenyataannya di lapangannya, itu ompreng yang dimakan sebelum jam 10, dikirim ke sekolah di atas jam 11, kalau tidak salah 11.30 atau 11.40, baru dimakan di atas jam 12 oleh para siswa itu sehingga keracunan massal terjadi di sekolah, di mana omprengmu kau kasih jam 10, tapi kalau kasih di atas jam 11 dan dimakan di atas jam 12,” imbuhnya.
Sudaryono menilai kejadian tersebut bukan sekadar kelalaian biasa karena aturan dan petunjuk teknis BGN telah diberikan kepada petugas.
“Berarti ini adalah kelalaian yang disengaja, saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak juknis sudah diberikan, cara sudah diberikan tapi Anda lalai dalam melaksanakan ini, namanya kelalaian yang disengaja,” tegasnya.
Ia memastikan BGN akan memberikan sanksi tegas dan meminta insiden tersebut diusut hingga tuntas. Jika ditemukan unsur pidana, BGN tidak akan memberikan bantuan kepada pihak yang terbukti terlibat.
“Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat, kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” ucap dia.
Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di sejumlah sekolah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG dari SPPG Kalitengah pada Selasa (1/9) siang.










