Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menyoroti pola tanam yang salah kaprah sebagai biang kerok utama bencana longsor yang kerap terjadi di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Hal itu ditegaskan Sudaryono saat mendampingi Menteri Pertanian Amran Sulaiman meninjau lokasi bencana dan menyalurkan bantuan logistik, Kamis (29/1).
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menegaskan bahwa kedatangannya bukan sekadar seremonial atau “setor muka”, melainkan untuk memastikan 20 truk bantuan pangan sampai ke tangan warga. Namun, ia mengingatkan bahwa bantuan tersebut hanyalah penyambung hidup sementara.
“Masalah utamanya ada di pola tanam yang salah kaprah. Tebing curam dengan kemiringan ekstrem dipaksa jadi ladang sayur atau hortikultura,” tegas Sudaryono.
Larang Tanam Sayur di Tebing Curam
Sudaryono menjelaskan, akar tanaman sayur (hortikultura) berjenis serabut dan tidak mampu mengikat tanah dengan kuat. Akibatnya, saat curah hujan tinggi, tanah di tebing curam kehilangan pegangan dan memicu longsor.
“Kita tidak bisa terus-terusan menyalahkan curah hujan kalau kita sendiri tidak mau membenahi peruntukan lahan,” imbuhnya.
Sebagai solusi permanen yang tidak bisa ditawar, Sudaryono meminta adanya penataan ulang peruntukan lahan secara tegas. Ia mewajibkan lahan miring ditanami tanaman perkebunan tahunan yang berakar kuat dan dalam, bukan sayuran.
“Silakan tanam hortikultura di lahan yang landai. Ini soal keselamatan nyawa jangka panjang. Kita tata ulang sekarang supaya bencana tidak jadi agenda rutin tahunan,” pungkasnya.










