Generasi.co, Denpasar – Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Denpasar tengah memeriksa prajurit TNI AL yang terlihat mengawal anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna (AWK), dalam agenda di Thailand. Prajurit tersebut dipastikan masih berstatus sebagai anggota aktif TNI AL.
Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui keterlibatan dan penugasan prajurit tersebut dalam kegiatan yang videonya beredar di media sosial.
“Berita terkait viral itu, kita sedang mendalami, kita sedang mempelajari, terutama di pihak Lanal sendiri,” kata Ary di Mako Lanal Denpasar, Kamis (3/9).
Ary mengatakan prajurit tersebut memang ditugaskan sebagai ajudan AWK sejak sekitar setahun lalu. Penugasan itu, menurut dia, didasarkan pada surat permohonan resmi dari pihak AWK.
“Untuk perizinan sebatas pemahaman saya itu sejak tahun lalu. Memang sebagai ajudan dari anggota DPD tersebut. Ada surat resminya, makanya ini kita masih dalami hal-hal seperti ini,” ujarnya.
Meski membenarkan status dan penugasan prajurit tersebut, Ary mengatakan seluruh aspek terkait tugasnya masih diperiksa. Lanal Denpasar belum menyimpulkan ada atau tidaknya pelanggaran dalam penugasan tersebut.
Ia memastikan tindakan akan diambil apabila hasil pemeriksaan menemukan pelanggaran aturan kedinasan atau hukum.
“Nanti kalau memang anggota tersebut terbukti bersalah atau melanggar hukum, akan kita tindak lanjuti secara prosedur,” kata Ary.
Prajurit TNI AL itu menjadi sorotan setelah muncul dalam video saat mendampingi AWK dalam sebuah agenda di Thailand yang dikaitkan dengan isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Dalam video tersebut, prajurit terlihat mengenakan seragam dinas atau PDH dan mendampingi AWK menaiki panggung.
AWK sebelumnya mengakui prajurit tersebut merupakan pengawal pribadinya. Ia mengatakan pengawalan dilakukan karena kondisi keamanan Thailand dinilai cukup rawan.
“Memang pengawal pribadi, pengawal saya. Jadi kan mengamankan, kita kan tahu Thailand itu kan suatu wilayah yang agak rawan konflik,” kata Arya saat dihubungi, Rabu (2/9).
Arya juga mengatakan kehadirannya di Thailand bukan dalam kapasitas sebagai anggota DPD RI. Ia mengklaim datang sebagai tokoh yang mewakili lembaga Hindu dari Bali.
“Kalau saya yang pasti kemarin acara yang di Thailand itu saya datang mewakili lembaga Hindu ya. Jadi sebagai tokoh Bali, jadi tidak ada kaitan sama jabatan saya di manapun,” katanya.
Menurut Arya, kegiatan tersebut terdiri atas sejumlah agenda, mulai dari peluncuran pariwisata ASEAN, pemberian penghargaan, pameran, hingga diskusi. Ia mengaku menghadiri sesi pemberian penghargaan dan peluncuran video promosi wisata Bali serta menerima penghargaan dalam acara tersebut.
Arya juga mengaku tidak mengetahui bahwa acara Miss Equality di Thailand berkaitan dengan isu LGBT. Ia mengatakan tidak ingin mencampuri latar belakang pihak yang memberikan penghargaan.
“Kan kita tidak ikut komentar tentang latar belakang siapa orang-orang yang memberikan penghargaan. Gitu kan ada namanya etika kan seperti itu,” ujarnya.










