Samarinda, Generasi.co — Meninggalnya seorang pelajar berinisial MRS di Samarinda, Kalimantan Timur, usai menjalani masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) menyisakan duka sekaligus tanda tanya di tengah masyarakat. Belakangan, santer beredar rumor yang menyebutkan bahwa kondisi fisik siswa tersebut merosot tajam hingga kakinya membengkak akibat mengenakan sepatu yang kekecilan saat magang.
Merespons simpang siur informasi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin, angkat bicara untuk meluruskan kronologi kejadian berdasarkan laporan resmi pihak sekolah.
Menurut Armin, MRS diketahui menjalani program PKL di Ramayana Robinson, Jalan M. Yamin, Samarinda, sejak 9 Februari hingga 20 Maret 2026. Penurunan kondisi kesehatannya baru mulai terlihat jelas pasca-program tersebut berakhir.
“Tanggal 30 Maret 2026 siswa sempat kembali mengikuti kegiatan pembelajaran, namun pada 1 April 2026 disarankan untuk beristirahat dan diantar pulang karena kondisi fisiknya yang menurun,” ungkap Armin, Selasa (5/5/2026).
Kronologi Kaki Bengkak hingga Meninggal Dunia
Setelah dipulangkan, MRS tidak kunjung masuk sekolah. Pihak keluarga mengirimkan surat izin sakit berturut-turut, hingga akhirnya muncul keluhan terkait kondisi kaki siswa yang membengkak.
Berikut adalah rentetan penanganan dan respons pihak sekolah terhadap kondisi MRS:
- 10 April 2026: Orang tua mendatangi sekolah melaporkan bahwa kondisi MRS kian menurun dan menduga hal tersebut berkaitan dengan gangguan nonmedis. Pihak sekolah merespons dengan memberikan bantuan dana sebesar Rp1.100.000 untuk memfasilitasi pengobatan medis di Tenggarong.
- 21 April 2026: Guru dan perwakilan sekolah melakukan kunjungan (home visit) ke rumah MRS. Di sinilah teridentifikasi bahwa kaki siswa tersebut dalam kondisi lemas dan bengkak, meski tidak ditemukan adanya luka atau lecet. Mengetahui keluarga memiliki kendala tunggakan sebesar Rp2.400.000, pihak sekolah membantu berkoordinasi dengan Ketua RT setempat untuk mengurus fasilitas BPJS Kesehatan.
- 23 April 2026: Sekolah kembali menjenguk MRS. Saat itu, pihak keluarga mengabarkan bahwa kondisi anak mulai membaik dan bengkak di kakinya telah mengempis.
Menyikapi desas-desus “sepatu kekecilan” yang dikeluhkan menjadi pemicu awal kaki bengkak tersebut, pihak sekolah mengambil inisiatif. Berdasarkan penuturan orang tua bahwa ukuran kaki siswa adalah 43, sekolah memutuskan untuk membelikan sepatu baru dengan ukuran yang sesuai.
Sepatu Baru Belum Sempat Dikenakan
Nahas, sebelum sepatu baru berukuran 43 itu sempat diserahkan dan dikenakan, pihak sekolah menerima kabar duka pada 24 April 2026 bahwa MRS telah menghembuskan napas terakhirnya.
Armin menegaskan bahwa sejak awal teridentifikasi sakit, pihak sekolah tidak pernah lepas tangan. Sekolah terus berkoordinasi dengan keluarga untuk memastikan siswa mendapat penanganan yang layak.
“Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi kesehatan siswa semenjak diketahui mengalami penurunan fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki, langsung ditindaklanjuti dengan kunjungan ke rumah. Sekolah telah memberikan pendampingan secara berkelanjutan dan mendampingi hingga proses pemulasaraan serta pemakaman jenazah,” pungkas Armin.










