Wamentan Sudaryono Bongkar Propaganda Hitam Asing: Kampanye Anti-Sawit Cuma Perang Persepsi!

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono/IG

Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memperingatkan generasi muda Indonesia agar tidak mudah termakan oleh propaganda asing yang terus menyudutkan industri kelapa sawit nasional. Dalam pernyataannya di kanal YouTube Total Politik, ia secara blak-blakan membongkar motif di balik narasi anti-sawit yang digaungkan oleh dunia internasional.

Menurut Sudaryono, negara-negara asing seolah-olah bersikap anti-sawit semata-mata lantaran komoditas minyak nabati produksi mereka kalah bersaing di pasar global. Minyak nabati asing dinilai kurang diminati karena tingkat efisiensinya yang jauh di bawah minyak sawit kebanggaan Indonesia.

“Jadi Anda semua sebagai generasi terbaik Indonesia, jangan termakan propaganda. Kenapa Asing seolah-olah anti-sawit sama kita? Karena minyak nabati dia itu tidak laku atau kurang diminati atau kurang efisien dibanding minyak sawit kita,” tegas Sudaryono.

Kalah Jauh: 1 Hektare Sawit Setara 15 Hektare Bunga Matahari

Sudaryono memaparkan perbandingan efisiensi yang sangat timpang antara kelapa sawit dan komoditas nabati Eropa. Secara perhitungan ekologi, kelapa sawit terbukti jauh lebih efektif dan efisien.

Sebagai perbandingan nyata, minyak nabati yang dihasilkan dari satu hektare kebun kelapa sawit baru bisa disamai oleh hasil panen dari delapan, sepuluh, hingga lima belas hektare kebun bunga matahari. Terlebih lagi, ia menyoroti bahwa kebun bunga matahari bahkan tidak memiliki pohon yang memberikan tutupan hijau layaknya kelapa sawit.

Akal-Akalan Regulasi Eropa

Kenyataan bahwa sawit Indonesia lebih efisien inilah yang memicu apa yang disebut Sudaryono sebagai “perang persepsi”. Ia menilai berbagai regulasi ketat yang diterbitkan oleh Eropa, seperti kebijakan anti-deforestasi (EUDR), pada dasarnya hanyalah dalih untuk mempersulit ruang gerak minyak sawit Indonesia di pasar dunia.

Wamentan bahkan melontarkan sindiran ekstrem. Jika bangsa asing benar-benar peduli pada pemulihan ekosistem global, seharusnya mereka bersedia berinvestasi menanam satu hektare sawit di Indonesia, lalu menghutankan kembali (reboisasi) lima belas hektare kebun bunga matahari di negara mereka sendiri.

“Apakah dia mau lakukan itu? Tidak mau Pak. Apakah dia mau? Tidak mau,” sindirnya tajam.

Sawit: Miracle Crop Juara Indonesia

Di akhir pernyataannya, Wamentan menegaskan bahwa kelapa sawit adalah “miracle crop” atau tanaman ajaib yang menjadi juara mutlak bagi perekonomian Indonesia. Tanaman ini tidak dapat tumbuh subur di banyak negara. Hasilnya, saat ini 60 persen pasokan minyak sawit yang beredar di seluruh dunia berasal dari Tanah Air.

Keunggulan lain dari komoditas ini adalah sifatnya yang serbaguna, dapat diolah menjadi produk pangan maupun sumber energi berkelanjutan.

Oleh karena itu, Sudaryono meminta masyarakat untuk tidak termakan isu-isu usang yang menuding pembukaan lahan sawit selalu merusak ekologi hingga membunuh orangutan dan monyet. Ia meyakinkan publik bahwa semua kebun sawit yang dibangun secara legal telah diperhitungkan asas manfaat ekologinya.