JEMBER, Generasi.co — Kelakuan tak pantas wakil rakyat di ruang sidang kembali memancing sorotan tajam publik. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember dari Fraksi Gerindra, Achmad Syahri Assidiqi, kedapatan asyik bermain game di ponsel pintar sambil merokok saat rapat resmi tengah berlangsung.
Aksi nir-etika yang terekam kamera dan viral tersebut kini berujung pada sanksi tegas dari Mahkamah Partai Gerindra. Namun, yang membuat publik tergelitik adalah alasan di balik aksi indisipliner tersebut.
Panik Sapi Virtual Belum Diberi Makan
Teka-teki mengenai game apa yang membuat Syahri sampai mengabaikan jalannya rapat akhirnya terungkap. Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jember, Hanan Kukuh Ratmono, membeberkan pengakuan langsung dari Syahri sesaat setelah video tersebut viral.
Bukan urusan konstituen, Syahri rupanya sibuk mengurus hewan ternak virtualnya di dalam game.
“’Iya ketua, itu rapatnya mulai jam 10.00 pagi sampai jam 14.00 siang. Terus, jam 13.00 itu saya lupa belum memberi makan sapi saya’,” urai Hanan menirukan pengakuan Syahri kepada wartawan, Selasa (19/5/2026).
Hanan buru-buru meluruskan bahwa sapi yang dimaksud bukanlah hewan ternak sungguhan. “Maksudnya bukan sapi betulan, tapi sapi mainannya Syahri di game,” jelasnya.
Disidang Mahkamah Partai: Ancaman Pemecatan Jika Terulang
Tindakan abai terhadap tugas legislatif ini langsung direspons cepat oleh internal partai. Syahri telah dipanggil dan disidang oleh Mahkamah Partai Gerindra pada Jumat (15/5/2026) lalu, dan dijatuhi sanksi berupa teguran keras.
Hanan menegaskan bahwa setiap pejabat publik memiliki kewajiban moral untuk memprioritaskan kepentingan umum, bukan urusan pribadi, apalagi sekadar bermain game di tengah pembahasan nasib rakyat.
- Evaluasi Menyeluruh: Fraksi Gerindra melakukan evaluasi bersama agar insiden memalukan ini tidak menjadi preseden buruk bagi anggota dewan lainnya.
- Ancaman Sanksi Berat: Hanan memastikan tidak ada toleransi bagi kesalahan serupa di masa depan. “Kalau ada kesalahan lagi, tentu dengan sanksi lebih berat bisa sampai pemecatan,” tegasnya.
“Saya Manusia Biasa”
Menyadari posisinya yang terpojok oleh kecaman publik dan sanksi partai, Achmad Syahri Assidiqi akhirnya buka suara. Baik sebelum maupun sesudah menjalani sidang Mahkamah Partai, ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kelalaiannya.
“Saya khilaf saja. Saya manusia biasa. Saya taat dengan putusan Mahkamah Partai. Mungkin ada salah, saya mohon maaf. Saya menyesal sekali berbuat seperti itu dan tidak akan mengulangi,” ucap Syahri menyesali perbuatannya.
Insiden ini menjadi alarm keras bagi para wakil rakyat untuk lebih menjaga etika dan profesionalitas saat menjalankan amanat di ruang-ruang rapat pemerintahan.










