FOMO dalam Perspektif Ulama: Gejala Hati yang Tidak Tenang

Scroll Medsos/Unsplash

Menurut para ulama, FOMO sangat dekat dengan sifat ṭama‘ (keinginan berlebihan) dan ḥirṣ (ambisi yang tidak terkontrol). Hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

النَّفْسُ بِحُبِّ الدُّنْيَا لَا تَشْبَعُ
al-nafsu bi-ḥubb al-dunyā lā tashba‘u
“Jiwa yang mencintai dunia tidak akan pernah merasa puas.”

Ayat yang sering dikaitkan oleh para ulama dengan masalah kecemasan duniawi adalah QS. Al-Ḥadīd (57):20:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
wa mā al-ḥayātu al-dunyā illā matā‘u al-ghurūr
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”

Ulama memaknai ayat ini sebagai peringatan bahwa kecemasan yang muncul karena ingin selalu mengikuti arus dunia, termasuk FOMO, adalah tanda seseorang kurang menempatkan akhirat sebagai prioritas.

Hadis tentang Ketenangan Hati untuk Mengobati FOMO

Ulama juga merujuk pada hadis mengenai ketenangan hati:

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ
istaf­ti qalbaka
“Mintalah fatwa pada hatimu.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini dipahami sebagai ajakan untuk menimbang kembali apakah tindakan mengikuti tren tertentu muncul dari keinginan tulus, atau hanya karena takut tertinggal (FOMO). “Jika hati tidak tenang, tinggalkan,” kata Imam Nawawi dalam syarahnya tentang sikap wara’.

Ulama: Media Sosial Memperparah FOMO

Menurut KH. Cholil Nafis, FOMO modern banyak tumbuh karena arus perbandingan hidup di media sosial. “Melihat orang lain seakan selalu bahagia membuat manusia merasa hidupnya kurang. Padahal yang dipertontonkan hanyalah highlight,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sifat membandingkan diri dengan orang lain (muqāranah) dapat memicu iri (ḥasad) dan syirik kecil berupa riya’ digital, yaitu melakukan sesuatu semata-mata untuk dilihat orang.

Hal ini terkait dengan sabda Nabi:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
man tashabbaha bi-qawmin fa-huwa minhum
“Siapa yang meniru suatu kaum, maka ia menjadi bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud)

Ulama mengingatkan bahwa mengikuti tren tanpa pertimbangan syar’i dapat menyeret seseorang pada gaya hidup yang tidak maslahat.

Cara Mengatasi FOMO Menurut Ulama

Ulama memberikan beberapa langkah praktis untuk mengendalikan FOMO:

1. Memperbaiki niat (tashḥīḥ al-niyyah)

Setiap aktivitas harus ditimbang apakah untuk Allah atau untuk pujian manusia.

2. Mengurangi paparan media sosial (taqlīl al-muṭāla‘ah)

KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menyarankan umat untuk tidak terlalu banyak melihat dan mengurusi apa yang dilakukan orang lain.

3. Melatih qana‘ah

Qana‘ah menjadi obat utama.
Firman Allah:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
likay lā ta’saw ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum
“Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian, dan tidak berlebihan gembira atas apa yang diberikan kepada kalian.”
(QS. Al-Ḥadīd: 23)

Ayat ini dinilai sangat relevan dengan FOMO: manusia tidak perlu gelisah karena sesuatu yang tidak ia ikuti.

4. Fokus pada amal yang bermanfaat (al-‘amal al-ṣāliḥ)

Para ulama sepakat bahwa seseorang tidak boleh mengejar popularitas, tetapi mengejar manfaat.

Kesimpulan: FOMO adalah Penyakit Hati yang Perlu Diobati

Para ulama menegaskan bahwa FOMO bukan sekadar masalah psikologis modern, namun juga masalah spiritual. Ia berasal dari ketidaktenangan hati, kurang qana‘ah, dan fokus berlebihan pada dunia. Islam menawarkan solusi yang jelas: memperbaiki niat, memperkuat tawakal, dan mengembalikan prioritas hidup kepada Allah.

Dengan pandangan ulama tersebut, FOMO dapat dipahami bukan hanya sebagai fenomena sosial, tetapi sebagai panggilan untuk membersihkan hati dan menata kembali tujuan hidup.