Generasi.co, Surabaya – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto meminta kader partainya tidak menjadikan hasil survei elektabilitas sebagai ukuran utama. Pernyataan itu disampaikan setelah survei Indonesia Political Opinion (IPO) menempatkan PDI-P di bawah Partai Gerindra.
Hasto menilai kinerja dan kebijakan yang berdampak langsung kepada masyarakat jauh lebih penting daripada posisi partai dalam survei.
“Apapun surveinya, kalau kita tidak bisa membawa perubahan konkret pada kehidupan rakyat marhaen, lalu apa makna politik?” kata Hasto di Museum HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Senin (10/8/2026).
Karena itu, Hasto mendorong kepala daerah yang berasal dari PDI-P bekerja lebih keras dengan membuat kebijakan yang berpihak pada masyarakat.
“Kami mendorong para kepala daerah PDI-P dengan adanya tren kenaikan elektoral dari PDI-P semua untuk bekerja lebih keras, dengan kebijakan yang bisa dirasakan oleh rakyat,” ucapnya.
Hasto mencontohkan sejumlah kebijakan yang menurutnya berpihak kepada masyarakat kecil di Surabaya. Kebijakan tersebut antara lain terkait tata ruang, penciptaan lapangan pekerjaan, serta bantuan sosial bagi masyarakat miskin.
Ia menekankan bantuan sosial seharusnya tidak hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan produksi masyarakat.
“Mulai dari kebijakan tata ruang, lapangan pekerjaan, bantuan sosial buat orang miskin. Tapi bantuan sosial itu yang memberdayakan, meningkatkan kemampuan produksi rakyat,” jelasnya.
Hasto juga meminta anggota legislatif dari PDI-P mendorong program padat karya di tengah kondisi fiskal yang sulit.
“Kami juga mendorong para anggota legislatif dari PDI Perjuangan menghadapi tantangan fiskal yang sulit untuk lebih mendorong program-program padat karya,” tambahnya.
Dalam survei IPO yang dirilis pada Minggu (9/8/2026), elektabilitas Gerindra berada di posisi teratas jika pemilihan legislatif digelar saat ini dengan 17,5 persen. PDI-P berada di posisi kedua dengan 12,8 persen.
Partai Golkar menempati posisi ketiga dengan elektabilitas 10,4 persen, disusul Partai Demokrat dengan 8,1 persen.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan Gerindra masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat meski elektabilitasnya mengalami penurunan dibandingkan survei sebelumnya.
“Gerindra masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat, meskipun jika dibandingkan dengan periode survei sebelumnya terjadi penurunan, tetapi itu tetap menempatkan Gerindra sebagai parpol dengan elektabilitas tertinggi saat ini,” kata Dedi.
Sebanyak 24,6 persen responden masih belum menentukan pilihan atau merahasiakan pilihannya.
Dedi menilai hasil survei tersebut menunjukkan adanya pergeseran preferensi pemilih dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, Gerindra berpeluang memperkuat posisinya jika kebijakan Presiden semakin diterima publik.
“Tentu dimaklumi sebagai parpol penguasa, Gerindra cenderung mampu mengambil alih porsi pemilih yang sebelumnya dikuasai PDI-P. Jika kebijakan Presiden ke depan kian diterima publik, bukan tidak mungkin elektabilitas Gerindra semakin kuat di posisi puncak,” ujar Dedi.










