Dua atlet badminton tunggal putra Indonesia resmi keluar dari Pelatnas PBSI di Cipayung pada Kamis, 15 Mei 2025 dan beralih menjadi atlet profesional, simak alasanya!
Generasi.co, Jakarta – Dua atlet bulu tangkis nasional Jonatan Christie dan Chico Wardoyo resmi hengkang dari Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) PBSI. Keputusan ini disampaikan oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI).
“Hari ini, Jonatan dan Chico menyampaikan niatnya untuk menjalani model latihan berbasis klub di luar Pelatnas. Kami menghargai keputusan tersebut sebagai bagian dari proses profesionalisme atlet,” kata Wakil Ketua Umum I PP PBSI Taufik Hidayat dalam konferensi pers di Pelatanas PBSI, seperti dikutip Antara, Kamis (15/5/2025).
Juara Olimpiade Athena 2004 itu mengatakan keputusan ini tidak menjadi perpisahan antara PBSI dengan kedua pemain tunggal putra tersebut. Namun langkah ini justru akan menjadi awal dari kolaborasi yang sejalan dengan upaya transformasi sistem pembinaan atlet nasional.
“Ini bukan perpisahan. Ini bentuk kolaborasi. Model seperti ini lazim diterapkan di negara-negara besar dan kini Indonesia juga sedang bergerak menuju sistem pembinaan yang lebih adaptif dan fleksibel,” kata Taufik.
PBSI, kata dia, tetap memberikan dukungan dan koordinasi teknis kepada Jojo dan Chico, yang akan terus memperkuat tim nasional dalam ajang internasional resmi.
“Saya yakin, meski tidak lagi berada di pelatnas, Jonatan dan Chico tetap memiliki komitmen dan profesionalisme untuk mengharumkan nama bangsa,” ujar Taufik.
Jonatan Christie Berniat Mundur Sejak Olimpiade Paris 2024
Sementara itu, Jonatan Christie atau yang akrab dipanggi Jojo tersebut mengungkapkan sejumlah alasan pribadi dan profesional yang melatarbelakangi keputusannya keluar dari Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta.
Atlet berusia 27 tahun tersebut mengatakan keputusan ini sudah melalui pertimbangan panjang sejak tampil dalam Olimpiade Paris 2024. Menurutnya, Olimpiade Paris pada 2024 silam telah menjadi titik refleksi dalam kariernya.
“Kalau boleh cerita sedikit, sebenarnya awal ini bermula setelah Olimpiade Paris. Kami semua sudah komitmen dan berusaha maksimal, tapi hasilnya belum sesuai harapan. Saya pribadi cukup kecewa,” kata Jonatan.
Kekecewaan tersebut sempat membuatnya berpikir untuk mundur total dari dunia bulu tangkis. Namun setelah berdiskusi dengan pelatih, keluarga, dan orang-orang terdekat, Jonatan memutuskan melanjutkan karier dengan pendekatan yang berbeda.
Ia kemudian mengajukan permohonan kepada PBSI untuk menjalani model latihan profesional berbasis klub sejak akhir tahun lalu.
Setelah proses diskusi, PBSI dan Jonatan sepakat Piala Sudirman 2025 menjadi turnamen terakhirnya sebagai bagian dari Pelatnas Cipayung.
“Dari rumah saya ke Cipayung jaraknya cukup jauh dan membutuhkan penyesuaian. Saya memberanikan diri menyampaikan keinginan untuk menjadi pemain profesional,” ujar Jonatan.
Pemain unggulan tunggal putra Indonesia itu pun memastikan tetap membidik Olimpiade Los Angeles 2028 meskipun memutuskan untuk tidak lagi berlatih di Pelatnas PBSI Cipayung.
“Masih ada api dalam diri saya untuk terus berprestasi. Target ke Olimpiade Los Angeles 2028 itu masih ada, dan tidak ada sedikit pun niat untuk bersantai di luar pelatnas,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan kebutuhan utamanya saat ini adalah fleksibilitas dalam menjalani latihan, sesuatu yang sulit diperoleh dalam sistem pelatnas yang terjadwal ketat.
“Yang saya butuhkan sebenarnya hanya lebih fleksibel, baik dari jam maupun tempat latihan. Bukan berarti saya akan lebih santai, justru saya ingin bisa memanajemen semuanya dengan lebih baik,” kata peraih emas Asian Games 2018 itu.
(BAS/Red)










