Generasi.co, JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memperkirakan biaya dana atau cost of fund (CoF) masih bertahan pada level tinggi hingga kuartal I/2027. Kondisi tersebut dipengaruhi persaingan penghimpunan dana perbankan setelah pemerintah menarik sebagian dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang sebelumnya ditempatkan di perbankan.
Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, pengumuman penarikan dana pemerintah pada Juni 2026 sempat memicu persaingan likuiditas yang ketat di industri perbankan. Sejumlah bank kemudian berlomba memperkuat cadangan likuiditas dan mempertahankan basis pendanaan.
“Pada Juni, terdapat pengumuman yang tidak terduga mengenai penarikan dana SAL pemerintah dari bank-bank BUMN. Reaksi pasar saat itu sangat kuat, dengan persaingan penghimpunan dana yang intensif ketika bank-bank berupaya membangun cadangan likuiditas,” ujar Hussein dalam earnings call, dikutip Senin (2/11/2026).
Berdasarkan paparan perusahaan, biaya dana BNI secara year-to-date (YtD) hingga September 2026 tercatat sebesar 2,77%, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,83%.
Namun, secara kuartalan, CoF BNI meningkat menjadi 3,16% pada kuartal III/2026 dari 2,63% pada kuartal II/2026.
Hussein mengatakan perseroan memperkirakan biaya dana masih berada pada level tinggi hingga kuartal I/2027. Meski demikian, BNI tidak memperkirakan terjadi pemburukan signifikan lebih lanjut dari posisi saat ini.
BNI berupaya mengantisipasi tekanan pendanaan melalui penguatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Hingga September 2026, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi BNI mencapai Rp1.124,59 triliun atau tumbuh 20,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dari jumlah tersebut, CASA tercatat sebesar Rp733,74 triliun atau meningkat 19,6% YoY. Pertumbuhan terutama ditopang rekening giro yang mencapai Rp433,75 triliun, naik 25,9% YoY. Sementara itu, dana tabungan tumbuh 11,6% menjadi Rp299,99 triliun.
Hussein mengatakan penguatan transaksi perbankan menjadi salah satu strategi untuk mempertahankan basis pendanaan. BNI juga mengandalkan ekosistem digital untuk meningkatkan keterikatan nasabah dan mendorong pertumbuhan dana murah.
Dalam presentasi kinerja kuartal III/2026, BNI mencatat sekitar 93% saldo giro nasabah wholesale berasal dari pengguna layanan BNIdirect. Nilai transaksi melalui platform tersebut mencapai Rp9.324 triliun dengan jumlah pengguna 293.000. Kedua indikator itu masing-masing tumbuh 16% dan 19% secara tahunan.
NIM BNI Tertekan
Peningkatan biaya dana menjadi perhatian BNI di tengah tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Hingga September 2026, NIM BNI secara YtD tercatat sebesar 3,5%, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,8%.
Dalam presentasi kinerja perusahaan, penurunan NIM terjadi seiring dengan moderasi imbal hasil kredit, sementara biaya dana secara YtD relatif stabil. Imbal hasil kredit secara YtD turun dari 7,3% menjadi 6,9%.
Meski demikian, penyesuaian suku bunga kredit secara terukur mulai menunjukkan hasil. Imbal hasil kredit secara kuartalan meningkat dari 6,9% pada kuartal II/2026 menjadi 7,1% pada kuartal III/2026.
BNI berupaya menjaga selisih antara bunga kredit dan biaya dana tanpa memicu perpindahan nasabah. Perseroan mempertahankan target NIM sepanjang 2026 pada kisaran 3,3%-3,5%, sedangkan target biaya kredit atau credit cost berada pada rentang 1%-1,2%.
Dari sisi kinerja, pendapatan bunga bersih BNI mencapai Rp33,24 triliun hingga September 2026, tumbuh 13,6% YoY. Laba sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) juga meningkat 11,6% menjadi Rp27,53 triliun.
BNI membukukan laba bersih konsolidasi Rp16,12 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, naik 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp15,12 triliun. Peningkatan laba tersebut terjadi di tengah kenaikan beban pencadangan sebesar 18,6% menjadi Rp7,26 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BNI mencapai Rp992,51 triliun pada September 2026, tumbuh 22,2% YoY. Perseroan juga merevisi naik target pertumbuhan kredit 2026 menjadi 10%-13% dari sebelumnya 8%-10%.
Di tengah ekspansi bisnis tersebut, likuiditas BNI masih terjaga. Rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 87,9% pada September 2026.
Adapun rasio kecukupan likuiditas atau liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 143,4%, sedangkan net stable funding ratio (NSFR) mencapai 128,4%. Kedua rasio tersebut masih melampaui batas minimum regulasi sebesar 100%.










