Generasi.co, ISTANBUL – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah melakukan tiga kesalahan penyebutan dalam waktu kurang dari 10 menit saat menghadiri KTT NATO di Turki, termasuk menyebut Iran sebagai “Republik Islam Jepang”.
Kesalahan tersebut terjadi ketika Trump berbicara di samping Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam pernyataannya, Trump juga salah menyebut nama lembaga perjanjian nuklir Iran serta sempat memanggil Zelensky dengan nama Presiden Rusia Vladimir Putin.
Saat menjelaskan konflik dengan Iran, Trump mengatakan sejumlah rudal ditembakkan oleh “Islamic Republic of Japan” atau “Republik Islam Jepang”, padahal negara tersebut tidak ada.
“Saya sudah menceritakan kisah ini kemarin: Kami memiliki 111 rudal yang ditembakkan oleh Republik Islam Jepang. Mereka ditembakkan ke kapal induk selama sekitar satu jam,” ujar Trump.
Trump juga keliru menyebut nama perjanjian nuklir Iran Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Ia menyebut singkatan tersebut sebagai JCPOC.
“Mereka memilih negara yang salah, JCPOC. Kesepakatan yang sangat buruk,” kata Trump.
Di acara yang sama, Trump juga sempat meminta pertanyaan dari wartawan untuk “Presiden Putin” ketika dirinya duduk bersama Zelensky.
Rentetan kesalahan penyebutan Trump tersebut kembali menjadi perhatian karena sebelumnya ia beberapa kali mengejek lawan politiknya akibat kesalahan verbal. Trump pernah memutar video kesalahan bicara Joe Biden dalam kampanye 2022 dan mengejek Biden saat pemilu 2024 karena disebut mencampuradukkan nama Trump dan Kamala Harris.
Pada 2018, Trump juga ikut mengkritik Barack Obama setelah mantan presiden AS itu salah menyebut jumlah negara bagian yang pernah dikunjunginya.
“Bisakah Anda bayangkan jika saya yang mengatakan itu,” tulis Trump melalui X saat itu.
Namun, Trump kemudian beberapa kali melakukan kesalahan serupa. Dalam beberapa kesempatan terbaru, ia salah menyebut nama tokoh, negara, hingga lokasi.
Dua hari sebelum KTT NATO, Trump tampak mencampuradukkan Kepala Small Business Administration (SBA) Kelly Loeffler dengan musisi pendukungnya, Nicki Minaj.
Saat membahas suami Loeffler, Jeffrey Sprecher, Trump mengatakan, “Dan dia menikah dengan seseorang yang melakukan pekerjaan luar biasa di SBA, bisnis kecil — Nicki Minaj yang sangat luar biasa. Mereka menyebutnya bisnis kecil, Nicki.”
Sekitar dua menit kemudian, Trump kembali memperkenalkan Nicki Minaj, kali ini secara sengaja.
Dalam kesempatan lain pada Juni, Trump juga sempat salah menyebut nama CEO Tesla Elon Musk menjadi “Leon” ketika membahas perangkat komunikasi Starlink.
“Kami memiliki peralatan komunikasi di sana yang belum pernah dilihat siapa pun. Ini tingkat tertinggi dan, termasuk Starlink. Teman saya Leon — teman saya Elon akan sangat senang,” kata Trump.
Pada Mei, Trump juga sempat mencari pelatih sepak bola Indiana University, Curt Cignetti, dalam sebuah acara di Gedung Putih, meski Cignetti berdiri tepat di sebelahnya.
Trump juga pernah salah menyebut Barack Obama sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Padahal, penarikan tersebut dilakukan saat pemerintahan Joe Biden.
“Mereka kehilangan 13 orang saat meninggalkan bandara — Obama,” ujar Trump.
Kesalahan serupa terjadi ketika Trump menjawab pertanyaan mengenai Taiwan dari Presiden China Xi Jinping pada Mei. Trump merespons pertanyaan tersebut seolah membahas Iran.
Ia juga pernah mengatakan Ukraina telah kalah dalam perang pada April, tetapi pernyataannya kemudian dinilai merujuk pada Iran karena menggunakan poin yang biasa ia sampaikan mengenai negara tersebut.
Selain negara, Trump juga beberapa kali keliru menyebut nama pejabat dan wilayah.
Dalam acara Women’s History Month pada April, Trump tampak mencampuradukkan Kellyanne Conway dengan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt ketika memperkenalkan sejumlah orang.
Pada Januari, Trump berulang kali mencampuradukkan Greenland dengan Islandia dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos, Swiss. Kesalahan tersebut menjadi sorotan karena Trump saat itu menjadikan isu akuisisi Greenland sebagai bagian dari agenda politiknya.
Trump juga pernah salah menyebut Amerika Selatan sebagai Afrika Selatan saat berbicara mengenai orang-orang yang melarikan diri dari pemerintahan komunis.
Pada Agustus tahun lalu, Trump menyebut konflik Azerbaijan dan Armenia sebagai konflik Azerbaijan dan Albania ketika membicarakan klaim keberhasilannya mengakhiri perang.
Kesalahan tersebut kembali muncul ketika Trump mengatakan dirinya telah menyelesaikan perang Azerbaijan dan Albania, meski konflik yang dimaksud sebenarnya melibatkan Azerbaijan dan Armenia.
Sebelum pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Agustus, Trump juga dua kali mengatakan dirinya akan pergi ke Rusia untuk bertemu Putin. Padahal, pertemuan tersebut berlangsung di Alaska.
“Saya akan bertemu Putin. Saya pergi ke Rusia pada Jumat,” kata Trump.
Ia kemudian kembali mengatakan, “Kami akan pergi ke Rusia. Itu akan menjadi hal besar.”
Alaska sendiri tidak lagi menjadi bagian dari Rusia sejak dekade 1860-an.










