Wabah Tikus Landa Lumbung Gandum Australia Barat, Bau Bangkai Penuhi Toko dan Rumah

Tikus/Pexels

Generasi.co, Morawa – Wabah tikus yang melanda wilayah lumbung gandum Australia Barat semakin memburuk hingga bangkai hewan pengerat itu menimbulkan bau menyengat di toko, sekolah, dan rumah warga. Dilansir melalui TCD, populasi tikus di sejumlah wilayah meningkat tajam sejak Maret dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat serta mengancam produksi pertanian.

Di Morawa, sekitar 230 mil di utara Perth, jumlah tikus dilaporkan mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Populasi juga meningkat di wilayah selatan Australia Barat, sementara Australia Selatan disebut mulai mendekati kondisi wabah.

Petani gandum Geoff Cosgrove mengatakan bau menyengat berasal dari urine, kotoran, dan bangkai tikus yang membusuk.

“Kombinasi urine, feses, dan bangkai yang membusuk. Anda bisa mencium baunya di mana-mana,” kata Cosgrove.

Kondisi serupa dirasakan petani sekaligus anggota Dewan Morawa, Grant Chadwick. Ia bahkan harus membongkar dinding rumahnya untuk membersihkan bangkai tikus.

“Bau di kota sangat mengerikan ketika masuk ke toko-toko,” ujarnya.

Ekolog tikus dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Steven Henry, menjelaskan ledakan populasi dipicu panen gandum yang melimpah, hujan es yang menjatuhkan banyak biji-bijian ke tanah, serta musim gugur yang kering sehingga menyediakan sumber makanan melimpah bagi tikus.

Menurut Henry, sebagian besar makanan tikus berasal dari aktivitas produksi pangan manusia, seperti tanaman gandum yang rapat, biji-bijian yang tercecer akibat badai, hingga hasil panen yang disimpan di gudang.

Wabah tersebut juga menimbulkan kerugian besar bagi sektor pertanian. Australia Barat memproduksi sekitar 19,8 juta ton gandum setiap tahun dan sekitar 80 persen di antaranya diekspor.

Manajer perusahaan pemasok bahan kimia pertanian 4Farmers, Cameron Beeck, memperkirakan kerugian akibat serangan tikus akan melampaui 50 juta dolar Australia. Sementara Chadwick mengaku telah menghabiskan lebih dari 150.000 dolar Australia sejak Desember untuk membeli umpan tikus.

Henry menggambarkan lahan pertanian yang diserang tikus tampak seperti keju Swiss karena dipenuhi lubang. Tikus memakan benih sebelum berkecambah dan mencabut tanaman muda setelah tumbuh, sehingga hasil panen dapat berkurang antara 5 hingga 50 persen. Sejumlah petani bahkan harus menanam ulang seluruh lahannya.

Dampak wabah tidak hanya dirasakan sektor pertanian. WA College of Agriculture Morawa sempat ditutup selama dua pekan pada akhir Mei setelah zinc phosphide secara tidak sengaja disebarkan di area sekolah. Bahan tersebut tidak diizinkan digunakan di kawasan permukiman.

Bluebush Wildlife Sanctuary juga menemukan 96 burung mati atau sekarat di lapangan golf dan lapangan olahraga sekolah di Coorow. Umpan beracun yang dipasang untuk membasmi tikus diduga ikut membunuh satwa liar.

Untuk mengendalikan populasi tikus, petani menggunakan gandum yang telah dicampur zinc phosphide. Namun banyak di antara mereka meminta izin penggunaan ZP50, formulasi yang lebih kuat dan bekerja lebih cepat.

Ahli toksikologi dari Adelaide University, Ian Musgrave, mengingatkan penggunaan ZP50 harus dipertimbangkan secara matang karena berpotensi membahayakan burung dan satwa liar lainnya.

“Anda harus mengevaluasi apakah cara itu efektif dan menyeimbangkan peluang keberhasilannya dengan risiko kerusakan terhadap spesies yang terancam,” kata Musgrave.

Grain Producers Australia mengajukan izin penggunaan ZP50 pada 25 April dan Australian Pesticides and Veterinary Medicines Authority menyetujuinya pada 18 Mei. Pemerintah negara bagian juga mengalokasikan 200.000 dolar Australia kepada wilayah yang terdampak untuk pengadaan umpan dan pembersihan, serta melakukan pengujian terhadap bangkai burung yang ditemukan.

Di Morawa, para pemilik toko kini mengosongkan rak makanan setiap malam untuk mencegah serangan tikus. Warga juga terus memasang umpan, membersihkan rumah, dan saling membantu menghadapi wabah yang belum diketahui kapan akan berakhir.

“Ini benar-benar menjadi perjuangan yang sangat panjang,” ujar Cosgrove.