Curhat Setahun Jadi Presiden, Prabowo: Geleng-geleng Saya, Bolak-balik Mau Disogok

Presiden Prabowo Subianto dalam Perayaan Natal Nasional/YT

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengungkap sisi gelap yang ia hadapi selama satu tahun memimpin pemerintahan. Ia mengaku berkali-kali didatangi pihak-pihak yang mencoba melakukan praktik suap atau penyogokan demi meluluskan kepentingan tertentu.

Pengakuan mengejutkan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (07/01).

“Aku satu tahun saja ya jadi Presiden, geleng-geleng kepala juga saya. Berapa kali saya mau disogok. Bolak-balik minta ini, minta itu,” ujar Prabowo di hadapan para petani dan pejabat.

Ogah Lihat Daftar Perusahaan Nakal

Di tengah upayanya menegakkan hukum ekonomi sesuai Pasal 33 UUD 1945, Prabowo menceritakan momen ketika ia disodorkan daftar puluhan perusahaan yang terancam dicabut izinnya karena pelanggaran aturan. Namun, secara tegas Prabowo menolak untuk memeriksa daftar nama tersebut.

Alasannya sederhana namun prinsipil: ia khawatir objektivitasnya terganggu jika mengetahui ada kolega, teman dekat, atau bahkan kader partainya sendiri di dalam daftar hitam tersebut.

“Saya bilang saya enggak mau, saya enggak mau lihat itu karena saya takut ada teman saya di situ. Iya kan? Nggak enak. Bisa terpengaruh saya. Begitu lihat daftar, eh aduh temen saya. Begitu lihat, eh ini Gerindra lagi,” seloroh Prabowo yang disambut riuh hadirin.

Serahkan ke Jaksa Agung

Untuk menghindari konflik kepentingan, Prabowo memilih menyerahkan sepenuhnya proses penindakan kepada aparat penegak hukum tanpa intervensi Istana.

“Jadi lebih baik saya nggak lihat. Saya nggak mau tahu. Jadi kalau yang dicabut ya salahkan aja Jaksa Agung,” tegasnya.

Ultimatum Pejabat: Mundur Jika Tak Paham

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo kembali mengingatkan jajarannya untuk mematuhi amanat Pasal 33 UUD 1945, di mana bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat. Ia memberikan ultimatum keras bagi pejabat yang tidak sejalan dengan visi tersebut.

“Apa yang kurang jelas? Yang tidak paham keluar saja dari jabatan, segera mengundurkan diri. Banyak yang bisa menggantikan saudara-saudara,” pungkas Prabowo.