Prabowo Kembali Bela MBG: Tak Ada yang Lebih Genting dari Perut Lapar

Presiden Prabowo Subianto menerima Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Jusuf Kalla didampingi Solihin Jusuf Kalla, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 11 Juni 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Generasi.co, GORONTALO – Presiden Prabowo Subianto kembali membela Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menegaskan bahwa persoalan kelaparan serta perbaikan gizi merupakan masalah mendesak yang harus segera ditangani di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Presiden saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Di tengah pidatonya, Prabowo sempat menghentikan sambutan setelah melihat sekelompok peserta membentangkan spanduk bertuliskan “Lanjutkan MBG”.

“Sabar dulu, ya. Aku harus selesaikan sambutan saya ini. Anak-anak itu, ya,” kata Prabowo.

Presiden kemudian menanggapi pihak-pihak yang masih menolak program MBG. Menurutnya, mereka seharusnya datang langsung ke masyarakat dan menanyakan manfaat program tersebut kepada petani, nelayan, maupun anak-anak.

“Ada juga yang nggak setuju MBG. Harusnya mereka yang nggak setuju MBG datang ke sini. Tanya itu petani-nelayan, MBG perlu atau tidak? Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?” ujar Prabowo.

Pernyataan itu disambut riuh para peserta yang hadir.

Prabowo juga menyindir pandangan sejumlah kalangan yang menilai ada persoalan lain yang lebih mendesak dibandingkan mengatasi kelaparan.

“Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira nggak ada yang lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau nggak segera diisi, ya dia mati,” katanya.

Kepala Negara kemudian menyinggung peringatan lembaga internasional terkait ancaman krisis pangan global. Menurutnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memperingatkan bahwa jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan terus meningkat.

Di tengah ancaman tersebut, Prabowo menyebut Indonesia justru mulai mampu mengekspor komoditas pangan ke sejumlah negara.

Selain membahas ketahanan pangan, Presiden juga mengungkapkan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia bangkit dan menjadi negara maju.

“Kita akan bangkit menjadi negara yang hebat. Ada yang selalu tidak ingin kita bangkit. Ada. Kita sudah tahu mereka-mereka itu,” ujar Prabowo.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga berkelakar mengenai gaya bicaranya yang dinilai keras saat berhadapan dengan petani dan nelayan. Menurutnya, penyampaian yang lugas diperlukan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Presiden kemudian menirukan gaya bicara yang lebih lembut dan menyindir pendekatan pembangunan yang hanya mengandalkan efek tetesan ekonomi kepada masyarakat bawah. Aksi tersebut pun mengundang tawa para hadirin.

“Sudah hari gini kita bicara apa adanya deh. Kalian lebih senang tahu hati saya, benar nggak? Daripada ngomong-ngomong sopan-sopanan gitu. Sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi,” kata Prabowo.