Resmikan 218 Jembatan dari Hambalang, Prabowo Wujudkan Mimpi Anak Pelosok hingga Janjikan Tes Kedokteran

Presiden Prabowo Subianto/Presiden RI

BOGOR, Generasi.co — Bagi masyarakat di pelosok nusantara, sebuah jembatan bukan sekadar proyek fisik berupa beton dan baja. Jembatan adalah jalan pintas menuju masa depan. Semangat inilah yang digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan 218 jembatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, Senin (9/3/2026).

Melalui konferensi video dari kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Kepala Negara menyapa langsung para kepala daerah, aparat penegak hukum, hingga warga desa yang kini merasakan langsung urat nadi kehidupan mereka tersambung.

Laporan pembangunan jembatan ini mencakup wilayah-wilayah strategis yang selama ini terisolasi, mulai dari Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Nias Selatan.

“Ini sangat penting untuk rakyat kita dan ini juga membuktikan kepedulian negara, kepedulian pemerintah pusat terhadap kondisi rakyat di mana pun,” tegas Presiden Prabowo mengapresiasi sinergi lintas instansi.

Dari 1 Jam Menjadi 5 Menit: Akhir Perjalanan Bertaruh Nyawa

Dalam dialog tersebut, terungkap fakta-fakta lapangan yang menyentuh hati. Di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kehadiran sebuah jembatan gantung sukses memangkas drastis waktu tempuh siswa menuju sekolah. Anak-anak yang sebelumnya harus berjalan memutar membelah hutan selama satu jam, kini bisa tiba di sekolah hanya dalam waktu lima menit.

Dialog pun semakin hangat ketika Presiden menyapa kembali anak-anak dari Nias Selatan yang dulu sempat viral karena harus menyeberangi sungai deras demi bersekolah. Salah satunya adalah Yamisa Zebua, siswa yang sebelumnya berani menyuarakan kondisi desanya.

Kali ini, Yamisa tidak hanya berterima kasih, tetapi juga mencurahkan asa pribadinya kepada Kepala Negara. Ia bercita-cita melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran, namun terbentur dinding tebal bernama biaya.

Mendengar hal itu, Presiden Prabowo merespons cepat tanpa birokrasi berbelit. “Ya sudah, nanti kamu dites ya,” jawab Presiden, memberikan lampu hijau bagi Yamisa untuk meraih mimpinya.

Filosofi “Satu Keluarga Besar”

Bagi Prabowo, memprioritaskan akses sekolah anak-anak di daerah terpencil adalah investasi terbesar negara. Ia memandang generasi muda sebagai kekayaan bangsa yang paling berharga.

Lebih dari sekadar infrastruktur, Presiden menggunakan momen peresmian 218 jembatan ini untuk mengingatkan kembali filosofi berbangsa. Ia meminta seluruh aparatur negara—baik pemda, ASN, TNI, maupun Polri—untuk melepaskan ego sektoral.

  • Pemerataan Keadilan: Tidak boleh ada wilayah yang merasa ditinggalkan.
  • Solidaritas Nasional: Kesulitan di satu desa harus dirasakan sebagai penderitaan seluruh negeri.

“Kita harus jadi satu, kita adalah satu bangsa Indonesia, kita adalah satu keluarga besar. Tidak boleh ada yang merasa lebih dari yang lain… Kalau ada satu desa yang menderita, seluruh rakyat merasakan,” tandas Kepala Negara.

Menutup perbincangannya, Prabowo menitipkan pesan kepada seluruh pekerja di lapangan untuk terus menuntaskan sisa pembangunan dengan baik dan melaporkan hasilnya langsung kepadanya.