Benarkah Jarang Berhubungan Seks Bisa Ganggu Kesehatan Mental? Ini Temuan Penelitian

Ilustrasi Seks/Pexels

Klaim yang menyebut seseorang harus berhubungan seks dalam frekuensi tertentu agar tetap sehat secara mental tidak didukung bukti ilmiah. Sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas seksual memang dapat memberikan manfaat fisik dan psikologis, tetapi tidak ada standar medis mengenai berapa kali seseorang harus berhubungan seks setiap minggu atau bulan.

Para peneliti menegaskan tidak adanya jumlah “ideal” yang berlaku untuk semua orang. Frekuensi aktivitas seksual dapat berubah seiring usia, kondisi kesehatan, tingkat hasrat seksual, hingga status hubungan seseorang.

Sejumlah studi menemukan hubungan antara aktivitas seksual yang teratur dengan sejumlah manfaat kesehatan, seperti penurunan tingkat stres, tekanan darah yang lebih rendah, peningkatan fungsi sistem kekebalan tubuh, hingga berkurangnya risiko gangguan kardiovaskular.

Pada pria, ejakulasi yang lebih sering juga dikaitkan dengan risiko kanker prostat yang lebih rendah. Sementara pada perempuan, aktivitas seksual dapat membantu memperkuat otot dasar panggul yang berperan dalam fungsi kandung kemih.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa manfaat tersebut tidak berarti seseorang yang jarang atau tidak berhubungan seks akan mengalami gangguan kesehatan.

Penelitian mengenai perilaku seksual selama masa pandemi COVID-19 menemukan adanya hubungan antara aktivitas seksual yang lebih rutin dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah. Beberapa studi lain juga menunjukkan aktivitas seksual dapat meningkatkan suasana hati dan kesejahteraan psikologis.

Namun dilansir melalui Medical News Today, hubungan tersebut bersifat korelasional, bukan kausal. Artinya, penelitian belum dapat memastikan apakah seks yang meningkatkan kesehatan mental atau justru individu dengan kondisi mental yang lebih baik cenderung memiliki kehidupan seksual yang lebih aktif.

Peneliti juga mencatat bahwa dampak psikologis tidak berhubungan seks sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu. Sebagian orang dapat merasa tertekan jika abstinensi terjadi bukan atas pilihan mereka sendiri, terutama ketika hal itu memengaruhi hubungan romantis.

Sebaliknya, banyak orang tetap menjalani kehidupan yang sehat dan memuaskan tanpa aktivitas seksual. Mereka yang memiliki dorongan seksual rendah, mengidentifikasi diri sebagai aseksual, atau memilih hidup selibat tidak otomatis mengalami dampak negatif terhadap kesehatan mental maupun fisik.

Dalam hubungan romantis, keintiman tidak selalu identik dengan aktivitas seksual. Berbagai bentuk kedekatan emosional seperti komunikasi yang baik, pelukan, ciuman, dan ekspresi kasih sayang juga dapat memperkuat kualitas hubungan.

Para ahli menyimpulkan bahwa tidak ada jumlah hubungan seksual yang dapat dianggap benar atau salah untuk semua orang. Faktor yang lebih menentukan kesehatan mental adalah kualitas hubungan, dukungan emosional, kondisi fisik, pola tidur, tingkat stres, serta gaya hidup secara keseluruhan.

Karena itu, seseorang tidak perlu merasa wajib memenuhi target frekuensi seksual tertentu demi menjaga kesehatan. Yang terpenting adalah setiap aktivitas seksual dilakukan atas dasar persetujuan semua pihak dan sesuai dengan kebutuhan serta kenyamanan masing-masing individu.