Tifatul Sembiring: “Kenapa Harus Bali Melulu?” Membedah Potensi Ekonomi Karimun, Kepri

Ketua Fraksi PKS MPR RI Tifatul Sembiring menyampaikan gagasan Ekonomi Utara dan pengembangan Ekonomi Karimun dalam Lokakarya Akademik Fraksi PKS MPR RI Tahun 2026 di Batam, Kepulauan Riau./MPR RI

Ketua Fraksi PKS MPR RI, Tifatul Sembiring, mengusulkan konsep “Ekonomi Utara” sebagai strategi baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan memanfaatkan kedekatan wilayah utara Indonesia dengan pasar yang dihuni lebih dari 3 miliar penduduk.

Gagasan tersebut disampaikan Tifatul saat menghadiri Lokakarya Akademik Fraksi PKS MPR RI 2026 bertema “Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau” di Batam, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Tifatul, selama ini perhatian pembangunan dan promosi ekonomi nasional terlalu terpusat pada kawasan selatan, terutama Bali, sementara peluang ekonomi di kawasan utara Indonesia belum digarap secara optimal.

“Kenapa Bali melulu? Bali itu sudah penuh, Bali itu sudah maju sendiri, bahkan sudah over tourist. Bagaimana dengan wilayah-wilayah Indonesia yang lain? Mengapa tidak dikembangkan,” ujar Tifatul.

Ia menilai potensi pasar di kawasan utara jauh lebih besar dibandingkan pasar wisata utama yang selama ini menjadi fokus Indonesia. Tifatul menyebut jumlah penduduk China mencapai sekitar 1,43 miliar jiwa, India 1,45 miliar jiwa, sementara kawasan ASEAN memiliki lebih dari 600 juta penduduk.

“Bayangkan potensi manusia di Utara. China saja sekitar 1,43 miliar jiwa, India sekitar 1,45 miliar jiwa, ASEAN lebih dari 600 juta penduduk, belum lagi Jepang, Korea, Rusia, dan negara-negara lainnya. Jumlah manusianya saja lebih dari 3 miliar,” katanya.

Selain jumlah penduduk, Tifatul juga menyoroti kekuatan ekonomi negara-negara di kawasan utara. Ia mengutip data yang menunjukkan produk domestik bruto China mencapai US$19,6 triliun, Jepang US$4,38 triliun, India US$4,13 triliun, dan Korea Selatan US$1,86 triliun.

Karena itu, ia menilai Indonesia perlu mengembangkan sektor perdagangan, pariwisata, dan jasa dengan orientasi yang lebih kuat ke kawasan utara.

Tifatul menyebut sejumlah daerah yang berpotensi menjadi motor pengembangan Ekonomi Utara, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua.

Dalam paparannya, Tifatul memberikan perhatian khusus kepada wilayah Karimun yang dinilai memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Ia menilai selama ini keuntungan ekonomi dari lalu lintas kapal di kawasan tersebut lebih banyak dinikmati oleh Singapura.

“Di sini ada Selat Malaka yang sangat strategis. Selama ini Singapura yang mengambil keuntungan lebih banyak dari kapal-kapal yang lewat. Arus peti kemas Singapura pada 2024 saja mencapai 41,12 juta TEU dalam satu tahun,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Tifatul menyebut arus peti kemas di Pelabuhan Batu Ampar masih sekitar 797 ribu TEU per tahun.

“Bandingkan dengan Batu Ampar di Batam yang hanya sekitar 797 ribu TEU setahun, belum sampai 1 juta TEU. Mereka berlipat-lipat. Padahal Singapura negaranya kecil, tetapi bisa memanfaatkan jalur strategis ini,” katanya.

Menurut Tifatul, pengembangan konektivitas dan infrastruktur transportasi akan menjadi kunci untuk mengangkat potensi wilayah utara Indonesia. Ia menilai kawasan tersebut memiliki banyak destinasi unggulan yang tidak kalah menarik dibandingkan Bali, mulai dari Danau Toba, Sabang, kawasan pantai di Aceh, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Bunaken, hingga Raja Ampat.

Ia menambahkan, Kepulauan Riau memiliki posisi sebagai gerbang utara Indonesia. Selain Batam yang hanya berjarak sekitar 40 menit dari Singapura, Karimun juga dinilai berpeluang menjadi pusat pertumbuhan baru melalui pengembangan layanan peti kemas, jasa kepelabuhanan, dan pengisian bahan bakar kapal.

“Kepulauan Riau ini pintu gerbang utara. Batam hanya sekitar 40 menit dari Singapura. Di sampingnya ada Karimun yang juga strategis dan lebih dekat ke Selat Malaka. Karimun bisa mengambil bagian, misalnya untuk peti kemas atau pengisian bahan bakar kapal-kapal yang melintas,” ujar Tifatul.